Tampilkan postingan dengan label #21HariMenulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #21HariMenulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juli 2014

Mimpi

        Semalam aku bermimpi. Pukul setengah empat pagi aku terbangun dari mimpi itu, dan langsung menangis. Menangisi mimpiku, menangisi kenyataan, menangisi nasib. Sungguh aku seperti telah kehilangan banyak hal. Harapan, mimpi, cita-cita. Aku merasa tidak berguna. Aku selalu saja seperti ini, pengecut. Tidak berdaya. Mengapa? Mengapa harus seperti ini? Aku seperti telah salah arah. Tak mungkin berputar balik. Pasrah, akan waktu yang terus berjalan, rintangan yang terus menerjang. Aku kabur olehnya. Aku hancur.



               Hari ke-21. 21 hari menulis.

Sabtu, 05 Juli 2014

Life




Hari ke-20. 21 hari menulis.

Memilih Pemimpin


*Memilih pemimpin

"Pemimpin" itu adalah kita semua. Yang memimpin kejujuran diri sendiri, memimpin kepedulian, berbuat baik, menafkahkan hartanya dijalan yang baik, bahkan termasuk definisi "pemimpin" kalaupun hanya memimpin menjaga diri sendiri dari hal2 merusak. Dengan pemahaman ini, maka genap sudah maksud dari nasehat nabi kita yang tercinta bahwa semua orang adalah pemimpin. 

Apakah negara kita rusak jika yang jadi presiden buruk? Tentu saja tidak, sepanjang "pemimpin2" di hati kita semua melakukan fungsinya. Tidak akan kejadian, karena akan ada yang saling mengingatkan, saling menasehati. Indonesia itu punya siapa? Apakah punya rakyat Indonesia? Ya, bukan. Ada yang maha memiliki, yang sekaligus juga maha penyayang  Percayalah, kita yang punya HP saja dirawat baik2, takut banget rusak. Atau punya buku, pun dirawat dan dijaga, apalagi dalam kasus ini. Ada yang maha merawat semua urusan. Kita cuma bisa berusaha, sisanya adalah keputusan mutlak yang di atas. 

Jadi, jika kalian adalah pemilih pemula, bingung dengan kecamuk masalah pilpres ini, maka tidak perlu berkecil hati. Cukup putuskan sesuai dengan nurani dan keyakinan kalian. Apakah kita akan berdosa jika ternyata pilihan kita itu besok lusa ternyata jahat. Tidak. Saya tidak sependapat jika kita berdosa atas pilihan tersebut, sepanjang kita telah berikhtiar memilih yang terbaik. 

Yang berjanji itu bukan kita, jika ada yang khianat, maka dialah yang menanggung dosanya. Yang bilang si A oke, si B keren, pun juga bukan kita; kita hanya mengamati, mendengar, lantas memutuskan dengan hati2. Kalau ternyata informasi itu salah, palsu, dusta, bukan salah kita. Karena kita adalah produk terakhir dari proses tersebut. Nah, yang harus dipikirkan adalah: jika kita terlibat dalam "janji" tersebut, terlibat dalam menyebarkan informasi2 tersebut, atau kitalah yang berusaha habis2an mendukung jagoan pilpres, membuat orang lain jadi salah pilih, silahkan berpikir. Karena siapapun bertanggungjawab penuh jika melakukannya. 

Jaga jarak dengan akun2 yang sibuk bertengkar. Jika terganggu, unfollow, unlike, atau berhenti ikuti. Besok lusa, kalau sudah pilpres, silahkan ikuti lagi jika merasa ada manfaatnya. Jangan terpancing menanggapi sesuatu, karena sekali kita terpeleset, susah payah berdiri lagi, minimal kaki kita ikut kotor. Kalau sampai hati dan akal sehat yang kotor, lebih repot lagi. 

Pada akhirnya, tentukan pilihan kalian dalam hati, yakini. Besok pas hari H, datang ke TPS, pilih. Maka selesai tugas kita memilih. 

Sambil diingat dan direnungkan, sekali lagi akan saya tulis: "Pemimpin" itu adalah kita semua. Yang memimpin kejujuran diri sendiri, memimpin kepedulian, berbuat baik, menafkahkan hartanya dijalan yang baik, bahkan termasuk definisi "pemimpin" kalaupun hanya memimpin menjaga diri sendiri dari hal2 merusak. Dengan pemahaman ini, maka genap sudah maksud dari nasehat nabi kita yang tercinta bahwa semua orang adalah pemimpin. -Tere Liye




Hari ke-19. 21 hari menulis.

Pagi

                Aku duduk sendiri. Di sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu. Di tepi jalan setapak. Ditemani pepohonan rimbun yang mengelilingi.
Burung-burung terbang lepas. Dari kejauhan terdapat suara ayam berkokok.  Suara jangkrik juga masih terdengar. Sungguh harmoni yang indah.
 Angin pagi bersentuhan dengan kulitku. Dingin, menyejukkan, menenangkan. Kuhirup dalam-dalam.

Aku memandang ke ufuk timur. Menatap langit pagi yang masih berwarna abu-abu. Menunggu matahari.


Hari ke -19. 21 hari menulis.

Kamis, 03 Juli 2014

Gaje

               Hari ini ke sekolah. Mau wifian sekalian liat calon adik kelas. Soal pengeboman sih, nggak tau ya mau liat atau engga. Sekarang lagi di hall. Udah rame sih nggak seperti awal saya datang tadi. Yaiyalah orang saya tadi  datang jam delapan kurang dikit. Bingung mau nulis apa, nggak ada ide. Rame juga soalnya. Perutku udah krucuk-krucuk lagi. Jam segini emang jadwalnya perutku keroncongan gini sih. Koneksi internetnya juga lumayan sih. Lumayan lemot maksudnya. Jadi, nggak bisa nulis banyak-banyak. Udah gitu aja ya. Hehe. Nggak jelas? Emang.




Hari ke-18. 21 hari menulis.

Rabu, 02 Juli 2014

Day With Close Eps 4: Kemenangan Cabe, yeay!(1)



Jagoan itu emang selalu menang di akhir (eaeaa).
                Setelah dua kali kalah, kita bangkit di permainan selanjutnya. Mungkin efek dari tahu sarang burung dan nagasari yang kita makan.
                Permainan kali ini saya namain egrang tali. Soalnya emang kayak egrang Cuma ada tali-talinya gitu. Kelompok Cabe yang main egrangnya Ajik, yang megangin talinya kita semua sisanya. Gunanya tali buat keseimbangan, jadi kalau misal terlalu condong ke kanan, Ajik bakal menginstruksikan agar yang megang tali sebelah kiri narik talinya. Ajik top banget pas main ini, jadinya kita bisa menang. Yeee, akhirnyaaaaa.
                


                Selanjutnya ada permainan kekompakan kelas(lagi). Di situ ceritannya kita harus berayun seperti tarzan dan harus nempatin satu dari enam belas kotak puzzle yang masih kosong gitulah. Yang pasti, kita sukses juga melewati tantangan ini. Nih, saya kasih fotonya.










Aduh saya kira ini tadi udah keposting, ternyata belum. kebalik deh. Maaf, besok kalau ada waktu aku edit-edit lagi. Sekarang keburu mau pulang.



Hari ke 16(1). 21 hari menulis.

Kawan

“Di sekitar kita ada kawan yang selalu hadir sebagai pahlawan.” 
― Andrea HirataEdensor



Hari ke-17. 21 hari menulis

Day With Close Eps 5: Kemenangan Cabe (2)


                Terus ada permainan namanya kemacetan lalu lintas. Pokoknya gimana caranya agar lalu kemacetannya bisa diatasi. Aku nggak terlalu dong sih aturan dan strateginya. Ini gambarnya:
                       Tenang, tim Cabe menang kok.



                Terus ada permainan ambil bola. Di sini masing-masing tim berusaha mengambil bola sebanyak-banyaknya. Caranya ya seperti yang di foto itu._. kakinya nggak boleh ngelewatin batas, dan anggota tubuhnya semua nggak boleh juga ada yang sampai menyentuh tanah di zona di mana bola berada. Akhirnya Cabe menang lagi, selisihnya dua bola sama Embung.
                Dan akhirnya sampai pada permainan terakhir.  Sayang sekali nggak ada fotonya. Permainannya namannya menyusun bambu aja deh. Ada tiga level dalam permainan itu. Level pertama aku lupa car nyusun-nyusunnya, yang pasti itu si Ajik yang nyelesein. Sedangkan tim Embung belum berhasil nyelesein level satu waktu Cabe masuk ke level dua. Di level yang kedua itu, bambu-bambu kecil yang panjangnya sekitar setengah meter di tata oleh pemandunya menjadi berbentuk II + III = III. Terus kita disuruh ngerubah tatanan penjumlahannya, tapi nggak boleh ngerubah tatanan hasilnya. Tapi Cuma satu bambu yang boleh dipindahin/dirubah. Bingung, tapi akhirnya Etika berhasil menemukan caranya, jadi gini nih : I+I+I=III. Pas ini Embung udah masuk level dua, tapi belum nemu caranya. Terus kita masuk ke level tiga. Dan setelah pada mikir keras akhirnya bisa! Saya nggak sempat lihat hasilnya gimana, udah keburu dibubrah soalnya. Dan mbak Ida bilang kalau level tiga ini belum ada yang bisa nyelesein sebelumnya. Uuuuu, Cabe emang hebat bangettt.
                Akhirnya, selesailah permainan hari itu. Habis itu ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi (mah nyanyi). Habis mandi kita semua makan bareng di rumah limasan gitu. Makan sop dan ayam kremes, minumnya jus jambu. Nikmat banget, apalagi makan bareng temen-temen gini.
             Abis makan kita iuran, ngitung-ngitung duit. Saya nggak ikut ngitung, tapi ikut main uno._. Dan setelah itu kita berselfie ria. Enggak deng, karena waktu itu udah jam dua siang, akhirnya saya nggak sempet selfiean sama temen-temen lain. Saya harus rela pulang duluan karena harus ke Kaca. It’s okeeey :”)

             
                  Totally fun. What a beautiful day.



Hari ke-16(2). 21 hari menulis.

Day With Close Eps 3: Kemenangan Embung

                Hey selamat bertemu di episode 3. Kok judulnya gitu ya? Yaaa nggak apa-apa dong nyenengin grup Embung dulu wkwkwk.
          Setelah tubing, selanjutnya kita main isi galon. Di sini saya sendiri lho yang ngarang nama permainannya apa, soalnya saya nggak inget nama permainan aslinya apa. Yang diinget pas mainnya doang J Tapi kalau yang di episode 2 itu emang nama permainannya Tubing tapi saya nggak  tau nulisnya yang bener gimana._.
Isi Galon



                Ini lokasi permainannya di bawah jembatan kecil, di samping lokasi kita waktu sesi pemanasan. Seperti yang sudah terlihat di atas, isi galon adalah permainan kekompakkan tim di mana tugas kita harus mengisi  galon tersebut dengan air sebanyak-banyaknya. Aturannya kita berbaris seperti gambar di atas, kemudian kita mengisi galon tersebut dengan cara menyalurkan air melalui sebuah pipa yang kedua ujungnya bolong, dari si penyuplai air ke teman di belakangnya. Lalu yang paling dekat dengan galon menuangkan air yang ada dalam pipa tersebut.

Pius dan Lela

Ajik dan Viko mesra ya!
                Sayangnya pada permainan kali ini kita, kelompok Cabe kalah. Penyebabnya mungkin saya. Waktu di perjalanan yang paling banyak bocor pipanya adalah waktu di tangan saya.  Soalnya tangan saya kecil banget bukkkk.  Nih lihat nih:




                    Kalau masih nggak percaya besok kalau ketemu buktiin sendiri deh!
                Oke, 1-0 untuk tim Embung. It’s okay. Masih banyak permainan yang bisa diperjuangkan. Ceileh hahaha.
            Selanjutnya adalah permainan kekompakan kelas. Satu kelas kerjasama semua buat menyelesaikan suatu tantangan. Tantangannya yaitu terdapat pipa yang gede dan panjang(lihat gambar) yang bawahnya ada tutupnya kalau yang ini. Ada dua buah bola di dalamnya. Kita semua ditantang untuk mengeluarkan bola tersebut dari pipa. Masalahnya, terdapat lubang-lubang kecil yang banyak di seluruh dinding pipa.

                Awalnya, kita nggak pake strategi. Saking bersemangatnya mungkin. Siapa yang ngisi lubang itu, siapa yang ngisi lubang ini, bebas. Alhasil kita nyerah pada percobaan yang pertama. Semua pada melepaskan jari mereka yang sebelumnya menutupi lubang dan wusss, air langsung mengucur dengan derasnya.
                Setelah tiga kali ganti posisi, dan yang terakhir akhirnya kita pake persiapan matang, akhirnya kita berhasil juga mengeluarkan bola itu. Pegelnya langsung hilang deh begitu kita berhasil mengeluarkan bola tersebut. Dan akhirnya kita foto-foto lagi dong.

                Permainan selanjutnya adalah adu kekompakan lagi antar tim lagi. Namanya memindahkan bola dan kelereng dengan tali. Hahaha nggak kreatif banget namanya. Lokasinya sama waktu kita sesi pemanasan tadi. Pasti udah bisa pada nebak dong gimana jalan permainannya, orang ada gambarnya gitu. Yah intinya kita memindahkan bola dan kelereng dari ujung yang satu ke ujung lainnya. Pas mindahin bola sih enak, pas kelereng itu yang susah. Dan tim Cabe kalah lagi. Awakdewe rapopo. Masih ada permainan yang bisa diperjuangkan. Fighting!!!



Udah serius masih aja kalah....


Ini koneksinya lagi lemot banget. Segini dulu deh. Besok fotonya tak tambahin kalau sempet._.
See ya di episode selanjutnya!




Hari ke-15(2). 21 hari menulis.

Renungan?


          Masa muda kalian terlalu berharga untuk dikorbankan hanya karena seseorang yang kita duga cinta sejati. Kalianlah yang akan menjalani kehidupan tersebut. Apa yang kita lakukan hari ini, akan mencerminkan apa yang terjadi di masa depan. Barangsiapa yang mulai memikirkan masa depannya, tekun menggapai mimpi2nya, maka akan seperti itulah masa depannya. Tapi barangsiapa yang hanya asyik dengan hal2 tidak penting, akan kemana masa depan yang kita siapkan? Dan kabar buruknya, tidak akan ada yang mau tukaran masa depan dengan kita. Orang lain mungkin bersedia membantu, menolong, tapi pasti ogah menjalani kehidupan kita.

         Boleh galau? Ya boleh2 saja. Namanya juga anak muda. Tapi jangan berlebihan. Apa batasan berlebihan itu? Mudah. Selalu berikan kesempatan kita memikirkan sesuatu minimal dua kali. Apakah ini lebay? Apakah ini overdosis? Renungkan sendiri sebelum melakukannya. Itu efektif sekali membantu mendefinisikan versi belerbihan tersebut.

          Masa muda adalah masa paling cemerlang untuk menentukan masa depan kita. Maka kelilingilah muka bumi ini, lihat begitu banyak tempat, gapailah cita2 terbaik kita, rengkuh mimpi2 termasuk yang paling tinggi sekalipun; rasakanlah pengalaman2 menakjubkan, belajarlah banyak hal, timba ilmu sebanyak mungkin, bermanfaat bagi orang banyak, itulah janji terbaik yang dimiliki anak muda. Jangan habiskan dengan bocor dan tumpah berserakan soal perasaan saja. Ada banyak kesempatan terbaik dalam hidup ini, bukan soal "Aqhu kangen sama kamoe", atau "Sudah sahur belum, Beb". 
 
         Ssttt, sebagai penutup, ketahuilah, tentu saja urusan cinta kita itu sudah ada penulis skenarionya. Bukan sutradara, bukan novelis, apalagi penulis amatiran Tere Liye, melainkan penulis skenario terbaik, yang maha tahu isi seluruh semesta alam--apalagi isi hati manusia. Percayakan saja pada penulis skenarionya.
 
        Copas dari statusnya Tere Liye hari ini.




         Hari ke-14(2). 21 hari menulis.


Keteteran

  
                Saya pikir ikut seperti ini gampang. 21 Hari Menulis. Soalnya, saya suka dan seneng. Tapi pas ngejalaninnya, keteteran juga. Minggu kemarin sebenarnya saya bisa posting, tapi mendadak perpusda tutup jadi mau tidak mau saya harus hengkang dari tempat tersebut.
                Perpusda Wates itu ya, sekarang udah nyaman banget. Udah ada AC nya, udah ada wi-fi yang kecepatannya super, udah bukunya banyak. Nyaman banget deh. Terutama yang lagi kehabisan kuota modem seperti saya ini, hehehe.
                Lho, kok jadi ngomongin perpusda? Soalnya ini ngepostnya di perpusda. Hari ini ngepost tujuh posting sekaligus. Gara-gara nggak ngepost dari hari minggu. Tapi saya buat tulisannya di rumah, nah baru ngepostnya doang di perpusda. Soalnya takut seperti kemarin lagi. Posting belum selesai malah udah tutup perpusnya.
                Tapiiiii, di perpusda hari ini tumben lemot banget koneksinya, ada anak-anak kecil yang pada berisik lagi. Huft, nasebbb.
                  Habis ini mau ngidupin Wi-Fi hp. Pasti langsung klang-klung-klang-klung gara-gara grup bbm Ipa 5.





Hari ke-15(1). 21 Hari Menulis.




GGS

                Sekarang saya lagi di perpusda. Dan rasanya pusing banget. Entah karena koneksinya lemot, entah karena kunciran rambut saya yang terlalu kuat, entah karena puasa, entah karena ada anak-anak yang berisik banget untuk ukuran di sebuah perpustakaan.
                Tapi yang paling ngganggu sih ya si anak-anak berisik ini. Mereka udah ada waktu saya ke sini. Dan you know? Mereka daritadi ngomongin sinetron GGS. Ganteng-Ganteng Serigala. Ngomongin pemainnya. Aliando yang ganteng lah, Prilly Latuconsina lah, si Galang yang sebenernya ganteng tapi udah punya istri tapi lebih masih ganteng Aliando, Tristan. Ngepoin biodata nya Aliando. Buseeet, anak-anak SD sekarang tontonannya gitu ya? Padahal sinetron itu kan jelas tontonan buat remaja. Padahal banyak adegan mesra-mesraan gitu. Apa pantes ditonton anak SD? Ah, kacau.

Hari ke-14(1). 21 hari menulis.

Minggu, 29 Juni 2014

Day With Close (Eps 2)

              Hai haiiii. Kemarin sampai mana ya? Sampai permainan yang tali-tali itu ya? Okedeh langsung lanjut aja...

             Kemarin itu saya belum menceritakan tentang pembagian kelompok kan ya? Ya jadi kemarin pas permainan pertama yang kalau dihukum mukanya dileletin tepung itu, kita dibagi menjadi dua kelompok. Pembagian kelompoknya dengan hitungan, dari yang berdiri paling selatan ke utara. Laki-laki dan perempuannya dipisah ngitungnya biar adil. Hitungannya sih cuma 1 dan 2 karena kelompoknya Cuma ada dua. Dan akhirnya saya masuk ke kelompok pertama. Terus disuruh buat nama kelompok sama yel-yelnya gitu. Kelompok saya beranggotakan saya, Viko, Ajik, Kurnianto, Dita, Etika, Ira, dan Jihan. Kelompok kedua beranggotakan Lusi, Lela, Tami, Vika, Pius, Tohang, Bagas/Ign, dan Aziz. Pertamanya Ajik mengusulkan tomat sebagai nama kelompok kita (entah motivasinya apa), kemudian setelah ditanya mbak Ida si Kurni malah nyeletuk bahwa nama kelompok kita cabe-cabean-_- Dan akhirnya nama kelompok kita jadi Cabe-_-, dengan yel-yel Cabeee? Good (iklan). Hahaha lol. Sedangkan yang kelompok lawannya namanya Embung. Tanyakan pada Lela arti dari nama kelompoknya ini.

                Dan permainan selanjutnya namanya tubing (nggak tau tulisan yang benar gimana).  Itu ceritannya kita seperti meluncur di arus sungai yang deras gitu. Pake pelampung pastinya.  Kelompok Cabe dapet giliran kedua. Padahal sih saya udah nggak sabar buat meluncur, tapi nggak apa-apa deh, lihat muka-mukannya si Embung pada kayak gimana dulu.

                Akhirnya Embung meluncur.  Pertama yang cowok-cowok dulu, terus yang cewek. Paling saya inget itu si Tamik. Waktu petugasnya udah ngelempar ban ke si Tami, bannya itu nggak ketangkap sama dia. Aduh saya liatnya mah kasian bener tu anak udah malemnya galau lagi ckck. Untung dia nggak apa-apa, Cuma pas selesai dia langsung misuh-misuh sendiri gitu deh.

                Tibalah giliran kami. Setelah ditakut-takuti oleh kelompok lawan, katanya di sana mengerikan gitulah, kami tetap bersemangat. Enggak deng, saya doang yang masih bersemangat kayaknya. Beberapa udah takut duluan. Saya agak takut juga sih, tapi tetep excited. Lalu pada awalnya kami nyeburnya di bagian sungai yang arusnya pelan. Kita disuruhnya nyebur dua-dua. Aturannya kalo udah nyebur langsung posisi tubuh telentang, dengan kaki di depan kepala belakang. Pertama kali suruh cowok dulu. Si viko dipaksa yang pertama kali karena dia ketua kelompoknya hahaha. Setelah dipaksa-paksa akhirnya dia nyebur. Dan kalian tau? Sedetik setelah Viko nyebur, dia teriak-teriak histeris takut gitu. Kita yang ngeliat kasian sekaligus iyuh? Untungnya nggak kita ketawain. Kalo kelompok lawan tau, Viko pasti udah dijadiin bulan-bulanan mereka._.

                Akhirnya Viko berlalu. Cowok-cowoknya udah nyebur semua. Giliran yang cewek. Sebenernya saya udah nggak sabar, cuman ya saya pura-pura takut juga, habisnya yang lain juga pada takut._. Terus jadinya saya sama Ira yang nyebur duluan. Setelah nyebur rasanya enak-enak aja tuh, tapi pas udah mau sampai di terowongan yang di situ arusnya deres banget, ada ketakutan sih. Yang paling kerasa petualangannya sih yang selama diterowongan itu. Terombang-ambing dalam arus yang deras dan gelap. Kalau yang paling ngeri itu pas abis keluar terowongan. Itu arusnya gede banget dan saya kebetulan di foto dan saya keliatan kelelep gitu._. tapi saya sampai di ujung dengan selamat dan penuh suka cita. Pengen lagiiiii!

See you at part 3!

Pic of this episode :

 entah itu siapa...

 kelompok CABE

 kelompok EMBUNG

CLOSE emang CLOSE!





Hari ke-13(2). 21 hari menulis.


The Climb

Hai. Mau share lirik lagu kesukaanku nih. Judulnya The Climb miliknya Miley Cyrus. Pertama kali tau lagu itu pas nonton Hannah Montana The Movie. Suka sama film itu, menghibur soalnya. Dan juga itu mileynya masih kecil, masih imut-imutnya.


I can almost see it
That dream I am dreaming
But there's a voice inside my head saying
"You'll never reach it"

Every step I'm taking
Every move I make feels
Lost with no direction
My faith is shaking

But I gotta keep trying
Gotta keep my head held high

There's always gonna be another mountain
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be a uphill battle
Sometimes I'm gonna have to lose

Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waiting on the other side
It's the climb

The struggles I'm facing
The chances I'm taking
Sometimes might knock me down
But no, I'm not breaking

I may not know it
But these are the moments that
I'm gonna remember most, yeah
Just gotta keep going

And I, I got to be strong
Just keep pushing on

'Cause there's always gonna be another mountain
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be a uphill battle
Sometimes I'm gonna have to lose

Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waiting on the other side
It's the climb, yeah!

There's always gonna be another mountain
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Somebody's gonna have to lose

Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waiting on the other side
It's the climb, yeah!

Keep on moving, keep climbing
Keep the faith, baby
It's all about, it's all about the climb
Keep the faith, keep your faith, whoa







Hari ke-13(1). 21 hari menulis.

Jumat, 27 Juni 2014

Ayo Tadarus!

      Tadi terawih dan saya sedih. Kenapa sedih? Karena melihat, sehabis terawih tadi semua remaja langsung pada keluar dari mushola. Entah pulang, entah main, atau apa. Jadi hanya tinggal saya satu-satunya remaja yang tersisa di mushola tempat saya terawih. Akhirnya saya tadarusan dengan tiga orang. Adik saya, Thoha, dan dua orang perempuan yang juga masih SD seperti adik saya. 
   
       Rencananya kita mau tadarus dari awal yaitu dari Al-Fatihah dan dilanjutkan jus pertama. Maunya sih membaca satu jus malam ini, tapi apa daya. Dengan kekuatan kita yang terbatas ini akhirnya kita hanya mampu membaca empat lembar mushaf Al-Qur'an. Ya saya kasian juga sih sama mereka soalnya mereka masih anak-anak, takut udah ngantuk gitu. Akhirnya jam sembilan kita udahan deh.

          Sedih lihat fenomena ini. Masih berpikir positif juga sih kalau mungkin mereka pada tadarus di rumah. Tapi....ya semoga gitu deh. Saya juga sadar diri, kalau saya juga masih sering males, nggak niat, ogah-ogahan, banyak alesan. Tapi saya akan berusaha untuk rutin tadarus setiap hari sebanyak yang saya mampu, agar dapat pahala. Selain itu hati saya juga adem lho rasanya kalau habis ibadah itu. Tapi menjalankannya harus dengan kesadaran dan hati yang ikhlas dong ya. Dan buat kamu yang muslim yang baca ini, jangan lupa tadarus Al-Qur'an ya. Udah gitu aja :D


          Hari ke-12. 21 hari menulis.

Kamis, 26 Juni 2014

Day With Close (Eps 1)

       Sebelumnya aku mau memberitahu tahu bahwa  Close di judul itu merupakan sebutan untuk kelas kami. Close itu singkatan dari Creativity Longer of Science Five.   
      Akhirnya ipa 5 jadi main juga. Outbound!!! Seneng bangeeet. Bener-bener kenangan yang nggak akan bisa dilupain deh pokoknya. Meskipun malamnya kami sempat bepusing-pusing ria. Sebenarnya bukan kami sih tapi yang kelihatan paling pusing sih igen, lusi, sama lela. Mereka dan beberapa orang lain pada ribut sendiri di grup bbm. Aku sih diam nunggu hasilnya aja, daripada ikutan mumet hehehe. Penyebabnya karena ada yang nggak bisa ikut. Ada empat orang, dan berarti jumlahnya semua 18 orang. Sedangkan kuota minimum yang diharuskan di tempat outbound itu adalah 20 orang. Jadi kalau jadi mau nggak mau kita harus bayar lebih. Terjadi lah kesepakatan malam itu. Outbound jadi diadakan di Dolan Ndeso Boro. Ini yang ngumumin si bagas alias igen sih. Emang sok mutusi dia itu haha. 


         
       Wisata outbond dolan ndeso boro merupakan salah satu objek wisata yang ada di Kulon Progo. Objek wisata ini terletak sebuah dusun kecil di kecamatan Kalibawang, tepatnya di dusun Boro, desa Banjarasri, kecamatan Kalibawang, kabupaten Kulon Progo. Objek wisata ini diberi nama Dolan Ndeso Boro dengan maksud bahwa objek wisata ini dapat dijadikan sebagai tempat untuk menghilangkan rasa penat setelah bekerja di kota. Karena, dengan mengunjungi objek wisata ini, pengunjung disuguhkan pemandangan pegunungan menoreh yang indah dan angin semilir bernuansa pedesaan yang tak bisa dirasakan ketika di kota. Dolan Ndeso Boro ini menjadi salah satu pendukung desa Banjarasri sebagai desa wisata terbaik kedua pada tahun 2012 lalu.(source: http://kalibawang.kulonprogokab.go.id/pages-48-dolan-deso.html)

       Sampai di sana saya sangat terpesona dengan keindahan alamnya. Subhanallah, indah banget. hamparan sawah yang luas dan menyejukkan dikelilingi pegunungan menoreh yang menjulang dengan gagahnya. Sangat memanjakan mata. Betapa kayanya negeri kita ini. Saya yang tadi malamnya sempat nggak mood, mendadak jadi excited banget.

      Sampai di sana kita langsung istirahat sebentar dikarenakan perjalanannya lumayan jauh apalagi ada yang rumahnya galur. Beh, dari ujung ke ujung dah itu. Kemudian kita mulai bermain outbound dibimbing oleh pemandu dari objek wisata tersebut yang bernama Kak Ida dan Kak Wida atau Mida ya? Saya lupa.....Maafkan saya._.V

       Permainan pertama adalah semacam pemanasan. Kita diharuskan berkonsentrasi, kalau enggak bakal kena punishment  yaitu mukanya harus dicoret sama cairan semacam tepung yang dicampur air gitu. Jujur saya nggak suka baunya dan sempat mau muntah, tapi untung saja saya tetap bisa bermain dengan enjoy. 
         
        Permainan selanjutnya itu namanya apa ya? Hmmm nggak tahu nih, yang jelas bentuknya seperti melewati rintangan yang terbuat dari tali dan dibawahnya ada semacam danau yang dangkal dan berlumpur. Ini penampakannya:
ayoo ajik!







semangat, elvira!^^

       Tak terasa sudah larut malam. Lanjutin besok deh. Tungguin ya tulisan selanjutnya! 



      Hari ke-11. 21 hari menulis.

  

Rabu, 25 Juni 2014

Siap?

   Hari ini rapotan. Mau tau perasaanku? Aku hanya merasa takut dan cemas, selebihnya biasa saja. Aku tau nilaiku akan hancur, rangkingku akan turun (drastis), dan aku tahu ini kesalahanku. Aku nggak mau minta sama Tuhan buat memberikan keajaiban pada nilai-nilaiku. Nggak mau lagi. Sudah terlalu sering aku meminta itu. Dan aku malu jika harus memintanya lagi.

   Setahun bagaikan sekejab mata buatku. Bagaimana tidak? Rasanya baru hari kemarin aku menginjakkan kakiku di kelas sebelas, sebelas ipa lima. Aku duduk sendirian. Jangan kasihani aku, aku sudah terbiasa sendiri. Lalu aku mulai mengikuti pelajaran yang terkadang membosankan, berkenalan dengan teman baru dan mengalami proses hingga sekarang kita bisa berteman akrab, tidur di kelas, ulangan, tugas, nyontek massal, ulangan, jam kosong, main, dan ulangan. Kenapa waktu rasanya cepat sekali berlalu.

     Kelas dua belas? Mau tidak mau aku harus siap?

   
 

      Hari ke-10. 21 hari menulis

Selasa, 24 Juni 2014

Tamu

       Malam itu aku sedang makan malam bersama keluargaku di ruang makan ketika ada suara ketukan pintu diiringi salam dan bunyi khas kantung plastik.
       "Pasti laundry," terkaku karena mendengar bunyi kantung plastik.
        Ibuku langsung membuka pintu ruang tamu yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan.
        "Selamat malam, Bu," kata seseorang di balik pintu.
        "Oalah Bu Mandor to, monggo mlebet Bu," kata ibu.
        Oh ternyata dugaanku salah besar. Orang itu bukan tukang laundry langganan keluargaku. Orang itu ternyata Bu Mndor, istri dari pejabat tinggi di desaku yang biasanya dipanggil Pak Mandor.
        "Tumben sekali datang kemari," tanyaku dalam hati. Bukannya aku berpikir negatif, hanya saja kenyataannya memang sebelumnya ia tak pernah bertandang ke rumah kami.
         Tamu itu lalu berbinsang-bincang dengan ibu dan bapak. Sebenarnya aku tak terlalu mendengarkan pembicaraan mereka yang tentu saja akan terdengar olehku, maka tetap saja aku mendengar samar-samar.
         "Niki wonten oleh-oleh sekedhik."
         ".......inggih putri kula ajeng nyalonke, nyuwun donga lan restunipun nggih."
          What? Ada udang dibalik batu rupanya. Di desa sekecil inipun, ada yang berbuat seperti itu. Tentu saja.
         Makanan pemberian Bu Mandor itu akhirnya ibu bagikan kepada anak-anak yang biasa mengaji di mushola dekat rumah kami. Aku tentu tidak mau memakannya. Sama sekali tidak tertarik. Mungkin memang niat ibu itu baik, hanya meminta restu. Aku akan mencoba menerima pemahaman itu dan berpikir positif.
         Ketika di jalan pulang dari mushola ibu bertanya pada tetangga yang kebetulan pulang bersama kami.
         " Wau Bu Mandhor ndhayoh ten daleme jenengan mboten?" tanya ibu.
         "Inggih, Bu. Biasa to Bu, nek gek butuh moro, nek wes dadi lali."
          Aku tersentak.



         Hari ke-9. 21 hari menulis.


Don't Give Up

"Kamu iri dengan kami karena segalanya, padahal kamu udah punya segalanya itu. Aku tidak punya orangtua lengkap, dan kamu punya. Kamu hanya harus membuat mereka percaya padamu dan memperhatikanmu. Hidupmu ada di tanganmu, mereka adalah perantaranya. Aku punya apa untuk membuatmu iri? Tulisan? Gambar? Imajinasi? Kreatiftas? Aku hanya melakukan  apa yang aku sukai, aku harus membuat hidupku ini bermakna. Aku tidak boleh bersedih terlalu lama. Roda selalu berputar, kadang baik kadang buruk. Aku hanya mencoba untuk membuat baik dan buruk itu tidak terlalu renggang, jadi aku bisa selalu merasa baik-baik saja."

-Perkataan seorang teman sekitar setahun yang lalu.





Hari ke-8(2). 21 hari menulis.







Kenapa?

               
Pagi ini aku bangun dengan pilek yang belum sembuh juga. Terus mandi, sarapan sambil nonton televisi, setelah itu balik lagi ke kamar dan buka laptop. Udah nggak perlu takut lagi bakal ada yang liat karena mbakku udah pergi ke jakarta. I need coffee, tapi lagi batuk pilek. Yawn.  Ah aku galau gara – gara statusnya. Apa – apaan coba buat status kayak gitu. Bikin galau ribuan cewek tau nggak. Masa dia nggak sadar sih? Dasar cowok nyebelin!

Sometimes, aku benci harus tumbuh. Meninggalkan masa – masa dulu, masa kecil.  Dimana setiap hari kita hanya bermain dengan teman – teman. Bermain masak-masakan, dakon, ingkling, bongkar pasang, barbie, petak umpet. Dimana kita nggak tau apa itu yang disebut cinta sama lawan jenis. Dimana kita berantem dengan saudara. Kini, nggak ada lagi saat – saat seperti itu. Yang kita pikirakan hanyalah masa depan. Gimana caranya agar kita bisa hidup di masa depan. Yang kita pikirkan hanyalah giman caranya mendapatkan materi.  Kita jadi individualis, egois. Dimana sekarang kita harus merasakan patah hati karena cinta kita bertepuk sebelah tangan.

Kenapa hidup harus seperti ini?




Hari ke-8(1). 21 hari menulis.


Itu curhatan tahun kapan ya?