Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2017

Cerita Januari #1



Bismillahirrohmanirrohim....

Entah ada angin apa, aku duduk bersila di kursi plastik di kamar pribadiku. Menghadap ke sebuah meja yang kusebut meja belajar, dengan jari-jari mengetik di tombol-tombol keyboard laptop, kembali melakukan apa yang sudah lama aku tinggalkan. 

Buku yang semula sedang aku baca—mengenai kisah dari salah seorang 4 wanita penghuni surga—kuletakkan sejenak di sampingnya. Buku itu kupinjam dari seorang sepupu yang sangat hobi membaca buku. Meski belum bisa membeli buku-buku yang aku inginkan, setidaknya aku bisa meminjamnya dari orang-orang—yang Alhamdulillah saat ini selalu berlimpah kebaikannya sehingga mau meminjamiku—bagiku sekarang, bukan punya fisik buku tersebut namun punya ilmunya, ibarat mengenggamnya dalam hati dan akal. Intinya, sekarang pengin baca buku sebanyak mungkin.

Pagi dengan langit kelabu Kulonprogo. Pagi yang kesekian kalinya mendorong diri untuk mencurahkan sedikit kisah, berharap bisa memberi inspirasi, walau sedikit.

Tidak terasa, setahun telah berlalu. Waktu kini cepat sekali berlari. Bahkan aku masih terlena, masih belum sadar harusnya aku sudah harus memperbarui rencana-rencanaku. Selama bergantinya waktu ini, tentu banyak kisah kalian yang telah aku lewatkan. Momen yang menyesakkan dada, membuat haru, atau membahagiakan? Sudah sejauh mana kalian berkembang? Sudah sampai mana langkahmu menjejak? Aku sungguh ingin mendengarnya, aku pun ingin berbagi cerita juga...

Takdir memang tak pernah bisa kita terka. Ia mambawamu ke sebuah perjalanan panjang yang engkau sendiri tidak pernah membayangkannya. Begitu pula aku. Sungguh aku tak pernah mengingat kebaikan apa yang aku lakukan di masa lalu hingga kini aku berada di titik ini. Sebuah lingkungan, sebuah amanah, sebuah keadaan, dengan orang-orang baik, yang bertujuan sama, meraih ridho-Nya.
Sebentar lagi masa kuliahku memasuki semester empat. Masa yang sangat kritis bagi kami, anak diploma tiga. Di semester inilah kita bisa berpuas-puas menuntaskan segala amanah diri ini—amanah untuk berkegiatan non akademik, bersosialisasi, belajar kehidupan—, amanah yang membuahkan amanah yang lain –amanah organisasi, amanah masyarakat, atau amanah umat—namun tetap dituntut untuk tak lalai akan amanah orangtua.

Berorganisasi. Berorganisasi adalah hal yang sudah aku impikan sejak aku dibangku SMP bahkan SD. Namun kesempatan itu baru bisa aku tuntaskan saat di perguruan tinggi. Menyedihkan? Tidak, aku merasa bersyukur setidaknya aku telah berada dititik yang aku inginkan. UGM begitu memanjakan para mahasiswa/i nya untuk berkegiatan. Aku pandang lagi perjuanganku sejak Agustus, dua tahun yang lalu. Dari seorang gadis amatir yang berani-beraninya mendaftar ini itu tanpa pengalaman sama sekali --dan kebanyakan di tolaknya-- hingga kini masih menjadi gadis amatir, yang terus berusaha menempa dirinya agar menjadi pribadi yang semakin lebih baik dan lebih baik lagi.

Mungkin bagimu, itu terlihat tak berguna. Apa enaknya berlelah-lelah mengelola suatu organisasi tanpa bayaran, lelah capek, menyita waktu istirahat, menyita tenaga, menyita waktu belajar? 

Ya, semua itu memang terjadi. Namun semua itu akan terbalaskan di masa depan. Proses belajarnya, interaksinya, sukanya, dukanya, pengalamannya, akan tertanam kuat dalam diri pribadi yang sungguh-sungguh menjalaninya. 

Selamat datang masa yang baru. Diri ini mungkin tidak sebaik, semampu yang sebelumnya, namun aku akan berusaha. Genggam tanganku, doakan aku, ajari aku, nasehati aku, tegur aku wahai kawan seperjuangan. Kita melangkah bersama.

pic from : here


Kulonprogo, 5 Januari 2017




dini sadida

Senin, 25 Januari 2016

Bermalam Bertiga

Malam ini saya bermalam di kos teman, bertiga. Rencananya mau nunggu jam 00 untuk melakukan ritual satu tahunan kita....yaitu KRSan haha. Iya, katanya KRSan nya itu harus cepet-cepet kalau mau dapat dosen yang enak.

Cukup senang akhirnya saya bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman dekat setelah sekian lama sendiri (halah). Pokoknya malam ini kita cerita banyak sambil minum cokelat panas, lalu nonton film. Saya cuma bisa bersyukur saja untuk hari ini, karena saya tidak mau membuat ekspektasi yang berlebihan lagi untuk kedepannya seperti kemarin-kemarin. Cukup nikmati saja saat ini. Selamat malam.

Minggu, 02 Agustus 2015

Sebuah Kesadaran

Sabtu, 1 Agustus 2015, 22:34 WIB

Malam ini tiba-tiba niatku untuk menulis bangkit. Rasanya ingin sekali. Tau kenapa? Karena  aku ingin mencurahkan sedikit isi hatiku untuk salah satu sahabatku yang hari ini berangkat ke Pulau Bali.

Aku bisa dibilang dekat dengannya, bisa juga tidak. Kepribadian kami yang bertolak belakang membuat kami cukup sulit untuk akrab. Dia periang, supel, dan cerewet, sedangkan aku sebaliknya. Kalem, lebih banyak diam di luar. Tiga tahun bukanlah waktu yang lama untuk ku tahu segala hal tentangnya. Hanya sedikit sekali yang ku tahu tentangnya. Sedikit saja. Huh, sahabat macam apa aku ini?

Ku pikir, aku tak akan terikat secara emosional dengannya. Oh ya, kita memang mengaku bersahabat. Tapi kadang, aku masih canggung berdua dengannya, aku jarang berkomunikasi dengannya, aku hampir belum pernah curhat padanya. Mungkin ia pun merasa begitu. Kita hanya dipaksa untuk dekat oleh sebuah hubungan persahabatan yang berjumlah tujuh orang.

Nah, hari ini dia berangkat ke Bali untuk melanjutkan studinya (aku tidak tahu jam berapa tepatnya). Sebabnya dia berhasil lolos di salah satu tempat kuliah idamannya di Bali, di jurusan yang ia minati pula. Aku ikut berbahagia untuknya, sekaligus iri.

Kemarin aku sudah mengontaknya secara pribadi setelah tahu dari pmnya di BBM bahwa ia akan berangkat ke Bali esok hari. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku akan benar-benar merindukannya, tapi yang kulakukan hanyalah mengetik pesan-pesan sederhana. Padahal aku ingin sedikit menulis berlebihan seperti remaja-remaja lain, tapi rasanya jika dengan dia aku tidak bisa soalnya dia balesnya aja nggak pake emotikon*tears. Tapi aku tahu itu memang kebiasannya.

Hari ini, di malam yang telah larut ini, aku tiba-tiba ingin mengobrol dengannya. Menanyakan bagaimana rasanya Bali, apakah sudah bertemu bule, atau hal-hal lainnya yang menyenangkan. Namun aku berpikir kalau-kalau dia sudah tidur atau lelah. Aku pun mengurungkan niatku. Padahal saat ini rasanya aku sudah kangen dia. Membuatku lagi-lagi jadi makhluk melankolis. Oh God, ternyata aku menyayanginya, meski mungkin dia tak menyadarinya. Biarlah, yang penting aku di sini selalu mendoakannya, selalu mengingatnya di dalam hati. Take care ya Lin, di sana. Gapai impianmu, kejar cita-citamu.


Ternyata sudah pergantian hari ya, tidak terasa. Baiknya, ku akhiri dulu tulisan ini. Terimakasih sudah membuatku menulis, Lin. 



Dia dan Aku (Susah sekali menemukan foto yang hanya kami berdua)



Sabtu, 23 Agustus 2014

Dua Titik di Kertas Kehidupanku (bagian 2)


Selanjutnya saya ingin bercerita tentang Adrea Rustandie alias Dhea. Dhea itu teman pertama saya di Kaca. Pertama liat, nggak nyangka orangnya seheboh gini. Saya pikir dia pendiam. Ternyata.....dia orangnya kocak banget! Coba deh buka-buka blognya di sini. Di situ kalian bisa liat betapa lawak dan narsongnya dia. Masa dia namain pembacanya monyet atau apaaa gitu. Di situ juga kalian bisa nemuin kalo dia suka ikutan kuis-kuis gitu dan banyak menang! Yang paling bikin saya iri itu pas dia menangin hadiah dari Cornetto pas Red Tour-nya Taylor Swift itu loh. Dia dapet headset sama pinnya masa. Ih bikin iri banget!

Emang saya suka ngepoin blognya dia? Jarang sih. Soalnya dia jarang nulis. Sekalinya ngepost paling ngepost syairnya William Shakespeare yang entah saya nggak ngerti. Huhu. Eh tapi dia juga suka ngepoin blog saya ternyata. Buktinya dia udah pernah komen tiga tulisan saya yang salah satunya udah saya post sejak jamak bahulak dulu sedangkan komennya lagi baru-baru ini.

Dia kayaknya suka sama William Shakespeare. Nggak tau kenapa, saya belum nanyain. Soalnya kita jarang banget ketemu. Dua pertemuan Kaca kemaren dia nggak dateng masa-.- Sms juga sering nggak dibales. Belagak sibuk dia mah. Wkwk peace dhe.

Intinya, nggak rugi banget punya temen kayak Dhea ini. Dia orangnya kocak. Dijamin ketika kamu habis diputusin pacar pun dia akan bisa membuat kamu tertawa. Paling sih ruginya, kita jadi nggak tau malu karena ketularan nggak tau malunya dia. Hahaha peace lagi dhe. Habisnya dia suka curhat kalo dia ngegebet cowok yang kadang nggak pandang bulu hidung  siapa, di mana, dan kapannya. Sori dhe gue buka dikit aib lu :p

Eh barusan buka blognya lagi. tampilannya baru euy. Silakan dibuka yaa hahaha.

Ya, hal-hal seperti inilah yang bisa membuat saya bahagia. Sederhana kelihatannya, tapi jika kamu merasakannya dengan hati, hal itu bisa sangat berarti.

Jadi, kenapa saya memberi judul postingan ini Dua Titik di Kertas Kehidupanku, ialah karena mereka sudah hadir di sekeping kisah hidupku. Mereka sudah ikut berpartisipasi menggambar di atas kertas kehidupanku. Seberapa besarnya, berartinya, dan indahnya gambar itu, hanya Tuhan dan waktu lah yang tahu. 

Dua Titik di Kertas Kehidupanku (Bagian 1)

“Besok kalo kamu lahiran, aku janji bakal bantu lahirannya kamu.”

Ini saya ceritanya nyolong-nyolong waktu buat nulis dan sekalian ngepost mumpung ada akses internet. Lama nggak nulis rasanya kangeeeen banget! Rasanya tuh kayak menemukan oase  di tengah-tengah gurun pasir setelah berabad-abad mencari jalan keluar. Makan pun terpaksa makan kaktus sehingga badan jadi kayak landak gini. Haduh apa deh din jayus banget. Biarin lah yang  penting haha-in aja. Haha.

Kali ini saya mau cerita tentang dua orang teman saya. Yang satu akan ada di postingan ini dan satu orang lagi ada di postingan selanjutnya.

Yang pertama adalah teman cewek satu sekolah saya. Dia adalah tipe-tipe cewek populer di sekolah gitu deh (mungkin). Langsing, cantik, rambut lurus panjang, dan behelan. Dulu waktu kelas sepuluh dan sebelas dia ikut ekskul dance. Yahh pasti pembaca yang satu sekolahan sama saya udah tahu kan siapa dia? Diem ya hihi.......

berawal dari percakapan di bbm lah kita bisa akrab. Belum lama. Sekitar 4-5 bulan yang lalu gitu deh. Nggak tau waktu itu kita ngobrolin apa kok bisa jadi deket. Yang pasti, ternyata orangnya menyenangkan dan tidak seburuk yang saya pikir. Sebelumnya saya pikir dia itu adalah tipe-tipe cewek yang sombong dan pilih-pilih teman. Ternyata semua dugaan saya salah. She’s a good girl.

Kelas sebelas saya satu sekolah sama dia. Semester satu kita cuma kenal biasa, semester dua kemarin baru mulai dekat. Meski sekarang udah beda kelas, kita justru malah makin dekat. Dia sering curhat ala remaja cewek yang lagi galaw-melowww gitu lah sama saya. Seringnya saya  cuma bisa menyimak, menjadi pendengar yang baik karena minimnya pengetahuan saya tentang masalah yang sedang dia hadapi.

Kadang kami punya pendapat yang berbeda, tapi itu malah bikin kita saling melengkapi satu sama lain. Jadi teringat sama salah satu temanku juga. Dia berjilbab, pakaiannya sangat tertutup, longgar banget gitu deh. Tapi kalo udah ngomongin orang, masyaallah, ngga berenti-berenti..... Jadi, jangan nilai seseorang dari luarnya aja ya, pembaca....(sebenernya nggak nyambung cuma mumpung lagi inget aja._.)

Terkadang kita saling bertanya hal-hal kecil seperti udah makan belum? Atau, udah mandi belum? Something like that kayak orang pacaran aja hahaha. Eh tapi jangan dikira saya suka sama dia ya, saya masih normal lah haha. Yang paling saya suka dari cewek ini nih ya, kita akhir-akhir ini suka ngomongin tentang masa depan dan cita-cita. Mungkin karena udah kelas dua belas kali ya.  Kalo ngobrolin hal ini kita mendadak jadi kayak menguatkan satu sama lain. Di saat yang lain nggak peduli tentang impian saya atau ragu dengan kemampuan saya, dia justru selalu menguatkan saya bahwa saya pasti bisa, mendukung saya, dan mempercayai saya. Rasanya bahagia banget men! Hmm, satu hal yang saya pelajari. Yang terpenting dari persahabatan itu bukan karena kita menyukai suatu hal yang sama, tetapi kita nyaman ketika bercerita dengannya dan saling menguatkan satu sama lain. Saya masih ingat dia pernah bilang begini:

“Besok kalo kamu lahiran, aku janji bakal bantu lahirannya kamu.”

Hmhhh... itu bikin terharu men.  Beneran. Dia emang kepengen jadi bidan katanya. Ah semoga kita bisa berteman selamanya ya, sampai tua nanti. Dan satu hal aja yang saya minta sama kamu, temanku. Jangan jadi nyelebelin ya ketika kamu punya pacar nanti. Jangan menjadi seolah-olah sumber kebahagiaanmu hanya dia. Ah jangan lupain akuuuw pokoknya :3 

Kamis, 20 Maret 2014

friends

Hai :)
Kali ini saya mau share tentang tujuh sahabat saya.

Memang belum lama saya kenal dengan lima sahabat saya ini. Baru sekitar setahunan lebih lah. Cuma satu orang aja yang sudah saya kenal sekitar empat tahunan karena saya dulu satu kelas sama dia sewaktu smp, tapi belum terlalu dekat. Saya kenal mereka saat kelas sepuluh. Kita dari smp yang berbeda – beda. Setelah sekian lama dekat, saya tahu kalo sifat kami berbeda – beda, walaupun kita juga mempunyai kesamaan.

Pertama Diah. Diah ini yang dari smp sekelas sama saya. Dulu waktu kelas tujuh dan delapan saya mengenal dia cuma sebatas teman. Kelas sembilan, kami mulai dekat karena meja kami depan- belakang. Sampai – sampai kami pernah punya nama geng gitu yang beranggotakan saya, diah, sama masing – masing jejer kami, nama gengnya ‘Anggurbelle’ , hihihi apa banget deh pokoknya. Dari dulu si diah ini orangnya emang koplak, pinter ngelucu, friendly, gampang deket sama orang, pedenya tinggi juga. Dia dulu pas smp nggak mau kalo suruh foto bareng, padahal kalo dirumah itu anak narsis abis! Nggak tau deh apa sebabnya. Dan pas saya SMA saya bersyukur banget bisa sekelas sama dia lagi. Dan akhirnya kami jejeran. Dan itu membuat dampak negatif dan positif bagi diri kami masing – masing. Buktinya sekarang Diah udah bisa narsis bareng teman - teman, dan suka baca novel juga hahaha.

Dida. Saya kenal Dida sewaktu kelas sepuluh. Pecinta film 5 cm. Addicted sama Herjunot Ali dan Andi Arsyil. Pertama kali kenal dia, dia itu orangnya baik banget. Dia sering smsin saya dan teman lain kalau ada pr atau tugas atau kalo dimintain tolong dia juga mau. Dia orangnya juga asik, friendly dan polos. Dia suka shopping ke jogja (Bahkan dia hapal jalan2 di jogja walaupun nggak tinggal di kota Jogja), dia suka nonton sinetron, dia suka nonton film yang lagi update, apapun sesuatu yang gaul dia itu yang paling update dibanding sahabat saya lainnya. Dida ini bentuknya(?) kecil agak bulet, mukanya juga bulet, pake kacamata lagi, kalo senyum apalagi pas keliatan giginya jadi unyu, pokoknya unyuk – unyuk gitu deh. Dida ini golongan darahnya AB, sama seperti saya. Dan menurut saya, dia adalah sahabat saya yang paling sabar dan bijak. Walaupun terkadang suka misuh – misuh sendiri sih kalau lagi jengkel sama orang, hihihi.

Ilma. Ilma ini jejerannya dida pas kelas sepuluh. Kata dida, dulu mereka juga nggak saling kenal karena berasal dari smp yang beda. Tapi tiba – tiba pada awal pertemuan mereka, si ilma tiba – tiba nongol dengan bunyi “clingggggggg” (saya curiga kalau dia waktu itu pake bubuk flo kayak yang dipake harry potter sama keluarga weasley waktu mau ke diagon alley), dan dia tiba – tiba buka percakapan sama dia. Kira – kira begini ceritanya.
Ilma : “eh lo dida kan?”
Dida : “eh iyaa” (dalam hati: wah ternyata gue populer)
Ilma : “elo cucunya mbah *nyebut nama simbahnya dida*kan?”
Dida : “iya. Kok tau e?” (mulai lapar, eh mulai bingung)
Ilma : “yaudah, kita jejer aja.” (dengan wajah datar)
Dida : “..........” (melongo, sampe mungkin mulutnya bisa menelan dua unit mobil dan sepeda motor.-.)
Begitulah kira – kira percakapannya. Sejak saat itu mereka selalu bersama dan tak terpisahkan like dora dan boots. Ilma ini badannya nggak tinggi, mungil gitu lah, dan wajahnya cantik, dan menurutku matanya seperti mata kucing. Orang yang belum terlalu kenal sama dia pasti mikirnya dia orang alim. Bagi saya, ilma itu asyik, apalagi kalo lagi ngomongin novel (kita sama – sama hobi baca novel), bahkan saya dekat dengan dia juga gara – gara novel. Selain itu dia orangnya juga pinter nggambar, seperti sudah bakat gitu. Saya sama ilma suka berimajinasi tentang suatu hal, efek hobi baca novel kali yee. Tapi ilma tuh cenderung tipe orang yang ngga perhatian. Cuek. But she’s cool.

Next, ganis. Pertama kali tau dia dari notes – notesnya di facebook. Saya suka baca tulisannya gitu lah. Ganis itu orangnya kreatif, pintar menggambar manga, pintar nulis juga. Mungkin karena golongan darahnya B (ngaruh nggak sih?). Ganis berperawakan tinggi, putih, berkacamata, dan seorang yang merupakan anggota tim basket sekolah. Ia suka sekali dengan hal- hal berbau Jepang dan Exo (itu lho boyband korea). Kita deket karena kata dia kita “temen musuhan” padahal kita ngga pernah bener – bener musuhan. Ganis udah punya dua buku lho. Iya, buku karyanya sendiri. Isinya yang buat dia (sama temen duetnya sih), yang buat sampul, yang jilid, editing, segala macem dia sendiri yang ngerjain. Walaupun nggak dilipatgandakan dan nggak diperjualbelikan tapi menurut saya itu keren!


Olin. Olin adalah orang yang cerewet. Kata banyak orang sih dia kembaranya Talitha. Mungkin karena kemana – mana selalu bareng, sama – sama pake behel, rambutnya sama – sama sebahu. Olin orangnya juga asik, baik, dan dia suka baca novel terjemahan (pahami benar poin ini), dia suka sama Shinee tapi akhir – akhir ini lagi suka sama Exo (maaf kalau penulisaannya salah). dia juga sekarang lagi suka sama Albern Sultan. Dia rumahnya deket sungai yang besar(?). Dia sekarang lagi sibuk belajar biar bisa masuk di perguruan tinggi yang dia inginkan*prokprokprok*.

Last, Talitha. Talitha adalah seseorang yang nggak jelas kalau ngomong, dia orangnya ramah banget, dan dia orang yang baik, jarang banget ngomongin orang. Besok dia pengen jadi polisi jadi sekarang giginya dibehel deh. Banyak orang yang sirik sama dia tapi dia nggak pernah dendam sama orang tersebut. Diantara kita dialah yang paling sering nebeng. Eh iya dia itu orangnya suka nggak nyambung kalo kita lagi ngobrol. Contohnya ya kita lagi serius bahas tugas eh dianya tiba – tiba nyeletuk “aku pengen ke pantaaaai,” gubrak banget kan?

Itu tadi sekilas tentang sahabat - sahabat saya. Btw, ada yang mau tahu tentang saya? enggak? yasudah :(
Eh iya, komentarnya ditunggu lho! saya masih harus banyak belajar nih.

Here's some of our photos :
ini di acara resepsi pernikahannya mbaknya Dida

ini waktu di Tanah Lot, Bali


pake mantol aja masih narsis-_-


di rumah Ganis ( masih pake seragam soalnya habis pulang sekolah )


( masih ) di rumah Ganis


emoticon kalo kata Olin ( soalnya kepala doang._. )

"Friendship is the inexpressible comfort of feeling safe with a person, having neither to weigh thoughts nor measure words."
(George Eliot)

Rabu, 19 Maret 2014

Puisi Lama


hai! kali ini saya mau post puisi. puisi ini dibuat sekitar tahun 2009 kalo nggak salah. udah lama banget kan? makanya maklum aja kalo bahasanya lebay hehehe.

-Sahabat Saingan-

Berawal dari kebiasaan
Lama-lama jadi ketergantungan
Meski kini ku tak bisa setiap hari berjumpa denganmu
But your is my best friend
Terserah kamu mau nganggep aku best friendmu atau bukan
Yang penting kita tetep sahabatankan ?

Karena kamu yang pertama kali aku kenal
Walau dulu kita sering banget musuhan
Ya maklumlah wong dulu kita masih SD
Aku selalu saja tersenyum jika teringat saat-saat itu
Masih ingatkah kamu akan saat seperti itu ?

Kamu baik
Kamu cantik
Kamu juga pintar
Beruntung banget aku punaya sahabat seperti kamu
Mudah-mudahan kamu nganggep aku seperti halnya aku nganggep kamu
Meski kita tak pernah menyatakan bahwa kita adalah sepasang sahabat
Tapi dihati kita tetaplah sahabat



-Sahabat Hilang Kontak-

Waktu begitu cepat berlalu
Secepat kamu meninggalkan diriku
Tak tahukah kamu bahwa aku begitu merindukanmu ?
Entah di mana kini dirimu berada
Sekolahmu saja aku nggak tahu
Bodoh bangetkan aku

Kamu benar-benar telah meninggalkanku sendiri di sini tanpa jejek
Apa kini kamu telah melupakanku ?
Benar-benar telah melupakanku ?
Secepat itukah kamu lupakan kenangan-kenangan kita dulu?
Masih ingatkah kamu pada gelang berwarna putih yang kita beli bersama sebagai tanda persahabatan kita dulu ?
Masih ingatkah kamu saat kita bermain bersama,pergi bersama,makan bersama dan menerjang cacian dari mereka bersama dulu ?

Oh Tuhan
Dirimulah satu-satunya sahabat yang telah benar-benar jauh dariku
Jauh dimata dan mungkin jauh pula dihati
Entahlah,yang pasti hanya kau dan Tuhan tentunya yang tahu



-Sahabat, Ayo Kita Bertahan !-

Dalam kesendirianku aku termenung
Memikirkan dirimu sahabat
Aku beruntung punya sahabat sepertimu
Walau kau memiliki kekurangan
Yang berbeda dari oranglain
Tapi kita tetaplah sahabat,sobat
Toh,manusia nggak ada yang sempurnakan ?
Semua manusia pasti punya kelemahan dan kelebihanya masing-masing

Kadang aku berpikir hidup ini nggak adil
Tapi kaulah yang menyadarkanku sahabat
Hanya kau
Disaat semuanya jauh dariku
Hanya kau yang ada disampingku

Kuharap kita tetap bisa bersahabat
Dulu,kini,dan nanti
Selama-lama-lama-lamanya
Kan kupertahankan persahabatan kita
Meski kita tak sama
Namun justru itu kita bisa saling melengkapi
Keep this friendship together,ok?



-Sahabat Yang Terlupakan-

Aku rindu dirimu
Walau kita masih sering bertemu
Tapi bukan itu yang kumaksud
Bukan ragamu yang jauh namun hatimu
Kini kau telah jauh meninggalkanku
Kini kau telah jauh berbeda
Melupakan kenangan masa kecil kita dulu

Mungkin kau tak memikirkanya
Mungkin kau tak menyadarinya
Padahal kau yang memulai itu semua
Padahal kau yang memintaku tuk jadi sahabatmu

Hanya sekedar kau mengingat saat-saat dulu kita bermain bersama saja itu hal yang sulit
Karena kau sudah benar-benar melupakanku
Dengan semua yang kau punya kini
Ku harap kau sempat membaca tulisan ini dan menyadari bahwa yang kimaksud di sini adalah kau

Meski kini kita telah jauh
Ku takkan pernah melupakanmu
Berlarilah dan kejar impianmu sahabat
Dan jadilah seperti apa yang kau mau
Kau kukenang selalu