Senin, 06 Februari 2017

Hijrah dalam Secuil Perspektif




 Menurut kalian, apa itu hijrah?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hijrah /hij·rah / 1  berarti; n perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah; 2 v berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya).

Ya, sudah diketahui secara umum bahwa kata hijrah merujuk pada berpindahnya Baginda Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Namun di sini ini aku akan sedikit (banget) mengulas arti kata hijrah yang merujuk pada arti hijrah dalam KBBI no 2; berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya).
 


Hijrah, hijrah itu dari yang nggak pake hijab jadi pake. Dari yang hijabnya pendek jadi panjang. Jadi yang nggak pake kaos kaki jadi pake terus. Dari yang ngajinya seminggu sekali jadi sehari satu juz, dari yang nggak pernah dhuha jadi dhuha terus, dari yang nggak pernah qiyamul lail (karena nggak bisa bangun pagi) jadi sering-sering qiyamul lail, dan masih banyak lagi. 

 Baca cerita Evita di sini.

Nggak cuma urusan ibadah aja, aku mengartikan hijrah itu juga semacam self-improvement. Misalnya hijrah dari yang nggak bisa ngomong depan orang banyak, jadi bisa sedikit-sedikit, dari minta uang dari orangtua mulu jadi belajar cari uang sendiri, dari yang takut coba hal-hal baru sekarang jadi suka cobain dikit-dikit, dari yang nggak pernah bisa nahan emosi sekarang belajar managepelan-pelan.. Hijrah dari wates ke jogja, hiijrah dari kenangan pahit di masa lalu menjadi memaafkan masa lalu.

Hijrah=Pindah. Pindah ke hal yang lebih baik. Dari yang nggak bisa jadi bisa. Semua orang pasti pernah merasakannya dong? Ya tergantung alasanya. Bagiku, hijrah itu semua hal yang membuatku berubah karena, dari, dan untuk Allah. 

---
Hai, aku ada project nulis nih setelah sekian lama nggak ada apa-apa (?). Jadi, aku sama temanku, Evita bakal melaksanakan project nulis kita berdua dengan hastag #projectberdua yang pelaksanaannya tiap 2 minggu sekali. Tujuannya ya buat melatih skill menulis kita berdua. Nanti, temanya kita musyawarahkan berdua dan bakal dipos paling lambat malam senin, kayak sekarang ini, hihi. Aku terinspirasi dari seorang mbak-mbak blogger yang keren yang juga ngadain project semacam itu dengan temannya. Kalo nggak salah, namanya mbak Silva.
Nah gitu deh, doakan kita istiqomah yak. Amiin


Dini Sadida

Kamis, 05 Januari 2017

Cerita Januari #1



Bismillahirrohmanirrohim....

Entah ada angin apa, aku duduk bersila di kursi plastik di kamar pribadiku. Menghadap ke sebuah meja yang kusebut meja belajar, dengan jari-jari mengetik di tombol-tombol keyboard laptop, kembali melakukan apa yang sudah lama aku tinggalkan. 

Buku yang semula sedang aku baca—mengenai kisah dari salah seorang 4 wanita penghuni surga—kuletakkan sejenak di sampingnya. Buku itu kupinjam dari seorang sepupu yang sangat hobi membaca buku. Meski belum bisa membeli buku-buku yang aku inginkan, setidaknya aku bisa meminjamnya dari orang-orang—yang Alhamdulillah saat ini selalu berlimpah kebaikannya sehingga mau meminjamiku—bagiku sekarang, bukan punya fisik buku tersebut namun punya ilmunya, ibarat mengenggamnya dalam hati dan akal. Intinya, sekarang pengin baca buku sebanyak mungkin.

Pagi dengan langit kelabu Kulonprogo. Pagi yang kesekian kalinya mendorong diri untuk mencurahkan sedikit kisah, berharap bisa memberi inspirasi, walau sedikit.

Tidak terasa, setahun telah berlalu. Waktu kini cepat sekali berlari. Bahkan aku masih terlena, masih belum sadar harusnya aku sudah harus memperbarui rencana-rencanaku. Selama bergantinya waktu ini, tentu banyak kisah kalian yang telah aku lewatkan. Momen yang menyesakkan dada, membuat haru, atau membahagiakan? Sudah sejauh mana kalian berkembang? Sudah sampai mana langkahmu menjejak? Aku sungguh ingin mendengarnya, aku pun ingin berbagi cerita juga...

Takdir memang tak pernah bisa kita terka. Ia mambawamu ke sebuah perjalanan panjang yang engkau sendiri tidak pernah membayangkannya. Begitu pula aku. Sungguh aku tak pernah mengingat kebaikan apa yang aku lakukan di masa lalu hingga kini aku berada di titik ini. Sebuah lingkungan, sebuah amanah, sebuah keadaan, dengan orang-orang baik, yang bertujuan sama, meraih ridho-Nya.
Sebentar lagi masa kuliahku memasuki semester empat. Masa yang sangat kritis bagi kami, anak diploma tiga. Di semester inilah kita bisa berpuas-puas menuntaskan segala amanah diri ini—amanah untuk berkegiatan non akademik, bersosialisasi, belajar kehidupan—, amanah yang membuahkan amanah yang lain –amanah organisasi, amanah masyarakat, atau amanah umat—namun tetap dituntut untuk tak lalai akan amanah orangtua.

Berorganisasi. Berorganisasi adalah hal yang sudah aku impikan sejak aku dibangku SMP bahkan SD. Namun kesempatan itu baru bisa aku tuntaskan saat di perguruan tinggi. Menyedihkan? Tidak, aku merasa bersyukur setidaknya aku telah berada dititik yang aku inginkan. UGM begitu memanjakan para mahasiswa/i nya untuk berkegiatan. Aku pandang lagi perjuanganku sejak Agustus, dua tahun yang lalu. Dari seorang gadis amatir yang berani-beraninya mendaftar ini itu tanpa pengalaman sama sekali --dan kebanyakan di tolaknya-- hingga kini masih menjadi gadis amatir, yang terus berusaha menempa dirinya agar menjadi pribadi yang semakin lebih baik dan lebih baik lagi.

Mungkin bagimu, itu terlihat tak berguna. Apa enaknya berlelah-lelah mengelola suatu organisasi tanpa bayaran, lelah capek, menyita waktu istirahat, menyita tenaga, menyita waktu belajar? 

Ya, semua itu memang terjadi. Namun semua itu akan terbalaskan di masa depan. Proses belajarnya, interaksinya, sukanya, dukanya, pengalamannya, akan tertanam kuat dalam diri pribadi yang sungguh-sungguh menjalaninya. 

Selamat datang masa yang baru. Diri ini mungkin tidak sebaik, semampu yang sebelumnya, namun aku akan berusaha. Genggam tanganku, doakan aku, ajari aku, nasehati aku, tegur aku wahai kawan seperjuangan. Kita melangkah bersama.

pic from : here


Kulonprogo, 5 Januari 2017




dini sadida

Jumat, 23 September 2016

Setelah Setahun

Sudah satu tahun ia berada di bangku universitas. Kehidupannya sudah banyak berubah. Waktunya yang dulu banyak ia habiskan di ruangannya sepulang dari menimba ilmu, kini ia habiskan untuk berkegiatan hingga matahari terbenam. Mencari pengalaman tujuan awalnya, hingga kini ia sadar bahwa ia melakukannya untuk dapat menemukan versi dirinya yang terbaik.

Ia tidak pernah mengatakannya kepada keluarganya. Mereka hanya tahu anggota keluarganya pergi kuliah ke kota sebelah. Entah apa yang ia lakukan selain itu, mereka tak tahu.

Ia seringkali gagal. Mendaftar ini-itu tak jua lolos. Tapi justru membuatnya berpikir ingin belajar lebih dan lebih lagi. Saat sudah masuk pun, seringkali ia salah dan lelah. Jatuh bangun dalam mempertahankan posisi. Dia tidak pernah mengeluh. Hanya sesekali menangis, setelah itu tidak. ia terus belajar, menyadari "kalau bukan sekarang, kapan lagi?"

Ia keluar dari zona nyamannya. Bagaimana tidak? Ia yang introvert sekarang malah menjadi bagian dari divisi kaderisasi di lembaga dakwah tingkat departemen di universitasnya. Ditambah lagi menjadi pemandu di kepanitiaan pengenalan dan orientasi mahasiswa baru.

Oranglain takkan mengerti jalan pikirannya. Terkadang, dirinya sendiri pun juga tidak memahaminya. Satu yang ia pegang, bahwa apa pun yang terjadi itu semua adalah rencana Tuhan yang terbaik yang dihadiahkan bagi dirinya.

Ia banyak memiliki orang-orang baru. Tentu juga banyak kehilangan teman-teman lama. Baginya, itulah siklus kehidupan. Datang dan pergi. Ia tak pernah menahan, hanya saja ia ingin siapa pun yang pernah mengenalnya mengenangnya.

Begitu juga dengan aktivitasnya. Harinya dilahap dengan kuliah dan organisasi. Belakangan, ia sering merindukan hobi lamanya. Mengurung diri di kamarnya yang berpenerangan lampu belajar 5 watt, bersantai-santai, membaca novel, internetan, menulis. Ah, apalagi kegiatan yang terakhir itu. Ia sangat merindukannya setelah sempat ia membaca tulisan teman lamanya yang sehobi dengannya. Maka, ia pun menyempatkannya malam ini. Bahagia rasanya, dan damai.

Rabu, 13 Juli 2016

Random Thought: Tentang Nikmat yang (Seharusnya) Selalu Disyukuri


Peringatan: Ini benar-benar acak!


Bahagia itu sederhana. Kamu cukup melihat sekitar sedikit lebih detail, maka kamu akan langsung menemukannya. Seperti aku pagi kemarin. Sudah pukul setengah sembilan, namun sinar mentari pagi itu belum juga terlihat. Agaknya, si awan mendung lebih suka mendominasi langit Kulonprogo esok itu. Namun bukan suram yang kurasakan, tapi damai. Ditambah suara bocah-bocah yang bermain bulutangkis di halaman samping rumah dan suara kokok ayam yang sesekali masih terdengar (mungkin kiranya mereka itu masih subuh) membuat pagi itu terasa damai untukku. Mendengar gelak tawa mereka, terlepas dari gadget tentunya, merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Membuatku mengingat masa kecil bermain petak umpet dan lompat tali dengan teman sampai sore.

Kemarin, aku bertemu dengan seorang teman lama di sebuah apotek. Bukan, dia bukan sedang sakit. Dia berada di sana karena dia berkerja di tempat tersebut. Aku yang datang bersama ibu membeli sebuah obat langsung tertegun. Jadi dia sudah bekerja di saat yang lain masih merayakan Idul Fitri?

Di perjalanan pulang aku kembali berfikir. Enaknya dia dan teman-teman lain yang sudah bekerja. Tidak perlu meminta uang dari orangtua lagi. Kedewasaannya juga terlihat lebih matang dibanding kita-kita yang masih sekolah/kuliah. Dan aku merasa malu karena masih begini-begini saja. Masih meminta uang dari orangtua untuk hal apapun.

Lalu aku ceritakan kegelisahanku itu pada salah seorang sahabat melalui sebuah aplikasi chatting. Setelah aku menceritakan semua pikiranku tadi dia lalu membalasnya dengan kata-kata yang sebenarnya sederhana, tapi sangat menohokku.
“Pasti di batin mereka ‘enak ya dini bisa kuliah’,” tulis teman tersebut.
“Di usia kita sebenarnya belum pantes kerja Din, belajar dulu,” lanjutnya.

Benar juga. Kita seharusnya memang mengusahakkan pendidikan yang tinggi terlebih dahulu, bagaimana pun keadaannya. Karena, meski pendidikan yang tinggi tidak bisa menjamin kita pasti sukses di masa depan, tetapi setidaknya pendidikan yang tinggi akan membawa kita pada pekerjaan yang lebih baik di banding yang tidak berkerja.

Betapa kurang bersyukurnya diri ini. Padahal baru kemarin aku baru menangis karena Allah masih berkenan menutupi semua aib-aibku dan tiba-tiba siangnya aku salah mengartikan petunjuknya jika saja aku tidak berbicara dengan temanku.

Oh ya, tentang pertemanan. Malam ini aku mendapatkan satu lagi pelajaran mengenai hal ini. Bahwa dalam berteman aku haruslah bersabar, pemaaf, dan ikhlas karena sesungguhnya waktu yang akan menjawab semuanya. Menjawab semua kegelisahanku, pertanyaanku, dan marahku. Bahwa dalam berteman aku tidak boleh mengenggam terlalu kuat, namun biarkan mereka bebas sekehendak mereka. Jika benar-benar teman sejati, semua pasti akan kembali erat.

Sekali lagi, bahagia itu sungguh sederhana. Bahagia itu cukup dengan menikmati malam di ruangan kepunyaan ditemani penerangan yang berasal dari lampu belajar dan layar laptop, lagu-lagu favorit, jari-jari yang menari-nari di atas keyboard, dan pemikiran akan nikmat yang tiada henti telah dan akan selalu diberikan Allah untuk aku dan seluruh umatnya. Oh ya, jangan lupakan tentang asyiknya mencari kata-kata yang baku di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan juga membuka tesaurus bahasa indonesia. Dan harapan-harapan untuk lebih sering menulis. Dan mencari-cari gambar yang cocok untuk tulisan ini. Dan kenikmatan-kenikmatan lain. Alhamdulillah. Harus selalu bersyukur apa pun dan bagaimana pun keadaannya.

credit: here


Kulonprogo, 13 Juli 2016
23:36



Selasa, 12 Juli 2016

Coretan Lain

Aku rindu menulis. Rasanya sudah seabad aku tidak menulis. Teringat ketika waktu lalu di mana setiap harinya aku sangat bersemangat menulis. Apapun itu.

Kini, aku sedang berada pada masa-masa kritis. Di mana aku diharuskan untuk bertindak, mau tidak mau. Berpikir, suka tidak suka. Mempertimbangkan semua hal dengan masak-masak. Agar tak terjatuh di masa yang akan datang.

Seringnya, aku hanya ingin, tanpa tindakan yang berarti. Mengaku sudah berupaya keras, namun ternyata hanya bermalas-malasan seharian di ruanganku...

Kata seseorang, menjadi dewasa berarti akan semakin jarang tersenyum. Maka dari itu kita harus memaksakan untuk terus tersenyum, dalam keadaan paling menyakitkan sekalipun. Aku memaknai pernyataan itu sebagai suatu hal yang ada benarnya. Mungkin semakin bertambah umur kita, akan semakin banyak penderitaan yang kita alami, semakin terjal jalan yang akan kita lewati, semakin banyak teman yang datang-juga pergi. Kata orang bijak, semua itu harusnya bisa kita ambil pelajaran, pelajaran dari segala kesakitan, kesulitan, dan kehilangan.

Aku sering berpikir begitu. Bahwa segala kejadian memang bisa diambil pelajaran. Bahwa semua kejadian buruk yang kualami selama ini, adalah proses menuju aku yang dewasa. Namun, aku juga sering berpikir bagaikan seorang yang frustasi. Sakit hati, marah, benci, malu atas semua yang terjadi. Membenci orang-orang yang menyakitiku, iri dengan orang-orang yang lebih daripada aku. Sering.

Tapi aku akhirnya sadar, jika momen-momen yang menyakitkan itu akan berlalu. Sakitnya, tersembuhkan oleh waktu. Meski masih terekam dalam memori. Sebagian masih jelas, sebagian kabur. Memafkan, berdamai. Kemudian ada masa-masa di mana hidup terasa membahagiakan. Kemudian datar. Dan kemudian, masuk kembali dalam momen penderitaan.

Tapi seharusnya, aku tidak kalah kan dengan momen? Tidak seharusnya aku menyerah pada keadaan, kan? Justru sebaliknya, harusnya aku bisa menikmati segala hal tersebut.

credit : favim.com



-Dibuang sayang,

  3/12/2014