Senin, 06 Februari 2017
Hijrah dalam Secuil Perspektif
Kamis, 05 Januari 2017
Cerita Januari #1
![]() |
| pic from : here |
Jumat, 23 September 2016
Setelah Setahun
Sudah satu tahun ia berada di bangku universitas. Kehidupannya sudah banyak berubah. Waktunya yang dulu banyak ia habiskan di ruangannya sepulang dari menimba ilmu, kini ia habiskan untuk berkegiatan hingga matahari terbenam. Mencari pengalaman tujuan awalnya, hingga kini ia sadar bahwa ia melakukannya untuk dapat menemukan versi dirinya yang terbaik.
Ia tidak pernah mengatakannya kepada keluarganya. Mereka hanya tahu anggota keluarganya pergi kuliah ke kota sebelah. Entah apa yang ia lakukan selain itu, mereka tak tahu.
Ia seringkali gagal. Mendaftar ini-itu tak jua lolos. Tapi justru membuatnya berpikir ingin belajar lebih dan lebih lagi. Saat sudah masuk pun, seringkali ia salah dan lelah. Jatuh bangun dalam mempertahankan posisi. Dia tidak pernah mengeluh. Hanya sesekali menangis, setelah itu tidak. ia terus belajar, menyadari "kalau bukan sekarang, kapan lagi?"
Ia keluar dari zona nyamannya. Bagaimana tidak? Ia yang introvert sekarang malah menjadi bagian dari divisi kaderisasi di lembaga dakwah tingkat departemen di universitasnya. Ditambah lagi menjadi pemandu di kepanitiaan pengenalan dan orientasi mahasiswa baru.
Oranglain takkan mengerti jalan pikirannya. Terkadang, dirinya sendiri pun juga tidak memahaminya. Satu yang ia pegang, bahwa apa pun yang terjadi itu semua adalah rencana Tuhan yang terbaik yang dihadiahkan bagi dirinya.
Ia banyak memiliki orang-orang baru. Tentu juga banyak kehilangan teman-teman lama. Baginya, itulah siklus kehidupan. Datang dan pergi. Ia tak pernah menahan, hanya saja ia ingin siapa pun yang pernah mengenalnya mengenangnya.
Begitu juga dengan aktivitasnya. Harinya dilahap dengan kuliah dan organisasi. Belakangan, ia sering merindukan hobi lamanya. Mengurung diri di kamarnya yang berpenerangan lampu belajar 5 watt, bersantai-santai, membaca novel, internetan, menulis. Ah, apalagi kegiatan yang terakhir itu. Ia sangat merindukannya setelah sempat ia membaca tulisan teman lamanya yang sehobi dengannya. Maka, ia pun menyempatkannya malam ini. Bahagia rasanya, dan damai.
Rabu, 13 Juli 2016
Random Thought: Tentang Nikmat yang (Seharusnya) Selalu Disyukuri
Di perjalanan pulang aku kembali berfikir. Enaknya dia dan teman-teman lain yang sudah bekerja. Tidak perlu meminta uang dari orangtua lagi. Kedewasaannya juga terlihat lebih matang dibanding kita-kita yang masih sekolah/kuliah. Dan aku merasa malu karena masih begini-begini saja. Masih meminta uang dari orangtua untuk hal apapun.
![]() |
| credit: here |
Selasa, 12 Juli 2016
Coretan Lain
Kini, aku sedang berada pada masa-masa kritis. Di mana aku diharuskan untuk bertindak, mau tidak mau. Berpikir, suka tidak suka. Mempertimbangkan semua hal dengan masak-masak. Agar tak terjatuh di masa yang akan datang.
Seringnya, aku hanya ingin, tanpa tindakan yang berarti. Mengaku sudah berupaya keras, namun ternyata hanya bermalas-malasan seharian di ruanganku...
Kata seseorang, menjadi dewasa berarti akan semakin jarang tersenyum. Maka dari itu kita harus memaksakan untuk terus tersenyum, dalam keadaan paling menyakitkan sekalipun. Aku memaknai pernyataan itu sebagai suatu hal yang ada benarnya. Mungkin semakin bertambah umur kita, akan semakin banyak penderitaan yang kita alami, semakin terjal jalan yang akan kita lewati, semakin banyak teman yang datang-juga pergi. Kata orang bijak, semua itu harusnya bisa kita ambil pelajaran, pelajaran dari segala kesakitan, kesulitan, dan kehilangan.
Aku sering berpikir begitu. Bahwa segala kejadian memang bisa diambil pelajaran. Bahwa semua kejadian buruk yang kualami selama ini, adalah proses menuju aku yang dewasa. Namun, aku juga sering berpikir bagaikan seorang yang frustasi. Sakit hati, marah, benci, malu atas semua yang terjadi. Membenci orang-orang yang menyakitiku, iri dengan orang-orang yang lebih daripada aku. Sering.
Tapi aku akhirnya sadar, jika momen-momen yang menyakitkan itu akan berlalu. Sakitnya, tersembuhkan oleh waktu. Meski masih terekam dalam memori. Sebagian masih jelas, sebagian kabur. Memafkan, berdamai. Kemudian ada masa-masa di mana hidup terasa membahagiakan. Kemudian datar. Dan kemudian, masuk kembali dalam momen penderitaan.
Tapi seharusnya, aku tidak kalah kan dengan momen? Tidak seharusnya aku menyerah pada keadaan, kan? Justru sebaliknya, harusnya aku bisa menikmati segala hal tersebut.
![]() |
| credit : favim.com |


