Selasa, 19 Januari 2016

Keseharian Pengangguran [1]

Sudah pukul sebelas. Penyinaran di kamar saya tinggal sebuah lampu belajar berdaya lima watt. Zenfone 4s saya mengalunkan tembang berjudul Untuk Perempuan yang Sedang Dipelukan milik salah satu musisi yang sedang digandrungi para pemuda di kota saya (tidak tahu di kota lain). 

Kejadian hari ini sedikit banyak dibandingkan kemarin. Tentang menginstal corel draw, mengantar nyonya besar ke mana-mana, mengontrol emosi yang sedikit-sedikit naik, mengganti alas meja belajar, nilai yang sudah keluar lagi (hari ini ada 2), mempermasalahkan waktu turunnya berita mengenai Mekkah yang bersalju, menonton tetangga sebelah (biru-kuning) yang entah rebutan apa, serius berburu informasi beasiswa yang ternyata tidak tersedia untuk D3, dan menertawakan teman satu Diksarkop yang nampang di layar kaca.

Satu yang saya sadari bahwa saya akan uring-uringan jika pengangguran terus begini#GigitLaptop. 
Sudah dulu ya, saya mau nge-list mengenai apa yang akan saya lakukan esok hari. Dah, assalamu'alaikum!


Senin, 18 Januari 2016

Nilai Pertama

Pukul satu siang, smartphone saya membunyikan nada notifikasi Line. Saya langsung menyambar dan membukanya. Dari grup kelas.

"Nilai pancasila udah keluar gaes," tulis temanku bernama Praba.

"Waduh," teman yang lain menanggapi. Beberapa mengatakan hal senada. Tapi hanya sedikit yang berkomentar. Mungkin masing-masing dari kami yang sudah membaca pemberitahuan ini memilih untuk mengomentarinya dalam hati. Sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Sibuk dengan asumsi masing-masing.

Tubuh saya langsung panas dingin begitu tahu berita itu. Itu nilai pertama yang keluar di semester pertama pada perkuliahan tahun pertama saya. Mata kuliah Pendidikan Pancasila. Konon, mata kuliah ini ada di semua jurusan di kampus saya. Mata kuliah yang sebenarnya saya ikuti dengan baik, hanya satu kali absensi karena suatu hal. Tapi saya berpikir selama ini tugas tidak saya kerjakan dengan maksimal, begitu pula Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Belum lagi saya tidak aktif di kelas, selama ini lebih banyak memerhatikan saja. Saya takut nilai saya jelek, nilai saya di bawah rata-rata. Entahlah, mengapa selalu pikiran negatif yang pertama kali hinggap di benak saya.

Nada pemberitahuan kembali terdengar.

"Pada dapat apa Pancasilanya?" tanya salah seorang teman bernama Imas.

"Kamu berapa? Aku B. Kamu pasti A ya?"

"Alhamdulillah."

Saya semakin panas dingin. Udara disekitar saya rasanya semakin sesak untuk dihirup. Atmosfer yang sebenernya saya buat sendiri. Mau buka nilai masih takut. Kalau begini saja, baru berdoa mati-matian.

Kembali saya buka grup kelas. Saya baca chat baru yang belum terbaca. Ada beberapa komentar di sana yang mengeluhkan tentang nilai pertamanya.

Saya mencoba tenang. Menghirup udara pelan-pelan  dan mengeluarkannya.

"Aku sudah siap, aku berserah diri pada Allah, Dia pasti memberikan yang terbaik," ujar saya dalam hati.

Sempat lupa password._. Akhirnya saya melihat nilai pertama saya. Mata saya terfokus pada layar laptop, mulut saya tak henti mengucap doa. Dan 'alhamdulillah' adalah kata yang akhirnya saya ucap begitu saya melihat satu huruf kapital terpampang di samping tulisan Pendidikan Pancasila. Alhamdulillah, tak seburuk yang saya kira. Tadi itu nyatanya hanya pikiran negatif saya saja.

Nilai mata kuliah Pengantar Ekonomi Mikro keluar sekitar satu jam kemudian. Kembali saya review tingkah saya satu semester kemarin di kelas ini. Tidur di kelas, mengerjakan kuis dan tugas seadanya (mung nyonto Nera ), belajar ujian semalam sebelumnya. Teladan bangetlah pokoknya. Kekhawatiran dan rasa deg-degan itu pasti ada, tapi tidak separah saat nilai pertama tadi. Dan hasilnya kembali saya mengucap alhamdulillah. Allah Maha Penentu Yang Terbaik dan Bu Nay dosen yang baik. Terimakasih, Bu. Maaf sering tidur di kelas Ibu. 

Akhirnya, meski saya sudah tahu hasilnya dan saya bersyukur tapi pikiran saya sebelum membuka nilai tadi menyadarkan saya. Saya merasa belum benar-benar serius menjalani kuliah maka saya harus lebih serius dan rajin lagi semester depan. Paling enggak, nggak ada lagilah tidur di kelas dan ngerjain tugas seenak-udel.

Wait, masih nunggu tujuh nilai lagi keluar. Doanya dibanyakin jangan lupa.


Komen, kritik, dan saran ditunggu.

Minggu, 17 Januari 2016

Sembunyi

Aku takut
Aku takut mereka akan tahu
Aku sudah akan ketahuan
Padahal sedang kucoba sembunyikan
Agar mereka tidak tahu
Tapi mereka akan tahu segera
Pun sekarang
Pada percakapan terakhir kami
Aku takut
Mereka akan menjadi seperti yang dulu-dulu
Meninggalkanku
Sendirian
Dengan yang kupunya
Karena yang kumiliki
Ku tidak percaya diri
Tahu-tahu mengutuk
Tiba-tiba tidak bersyukur
Rasa ini
Aku benci
Bukan,
Bukan mereka yang salah
Akulah
Dan aku
Kembali diingatkan
Bahwa segalanya
Serahkan padaNya
Pasrahkan padaNya
Kembalikan padaNya
Sang Pemilik Rasa
Sang Pemberi Kesedihan
Dan Kebahagiaan
Sang Penentu Takdir Hidup

Sabtu, 16 Januari 2016

Rencana Dari Tuhan [1]

Heiii ini cerpen ya. Maafkan kacau soal tema per harinya saya nggak bisa nepatin. Maafkan juga formatnya berantakan soalnya kalau pake HP pengaturan formatnya enggak lengkap, jadinya begini. As soon as possible saya akan sunting, deh.

Happy reading!

Rencana Dari Tuhan

Sabtu, 16 Januari 2016. Waktu menunjukkan pukul 13.35 WIB. Matahari begitu terik. Informasi cuaca dari smartphoneku memberitahukan indeks ultraviolet berada pada tingkat 8 dengan keterangan "Berisiko bahaya sangat tinggi jika  Anda tidak menggunakan tabir surya. Lakukan pencegahan ekstra karena kulit dan mata dapat terbakar matahari dengan cepat." Tantu saja aku jadi malas keluar rumah. Di dalam rumah saja segini panasnya, apalagi di luar. Tapi mamaku malah memaksaku mengantarnya ke tukang jahit mengambil pesanannya. Sebagai anak yang patuh pada orangtua aku pun mengiyakan.

Mamaku tak pernah menjahitkan bakalnya di satu tukang jahit. Pasti berpindah-pindah dari satu penjahit ke penjahit lain di daerahku. Aku tidak mengerti kenapa. Mungkin itu semacam hobi. Hobi lainnya selain mengoleksi bros. Aku menamakan hobi satu ini dengan nama travelling tukang jahit. Haha.


Kali ini mamaku membawaku ke tempat tukang jahit di daerah yang jaraknya sekitar 20 menit dari rumahku. Tempat itu berada di tengah desa di tepi jalan provinsi. Kami melalui jalan raya biasa sebelum masuk ke jalan menuju desa tersebut yang berada di samping rel kereta dengan aspal nya yang sudah rusak di sana-sini. Kemudian masuk ke jalan yang lebih kecil lagi, tidak beraspal tapi semacam di cor dengan semen dengan lebar sekitar setengah meter. Kanan kirinya dipenuhi pepohonan jati, asam, semak belukar, dan lain sebagainya, khas pepohonan tropis. Lalu terlihatlah sebuah bangunan sederhana di tengah kebun di tepi terakhir, tapi harus berbelok ke kiri beberapa meter, karena memang bangunannya agak menjorok ke dalam, tidak persis di tepi jalan. Aku heran bagaimana mamaku bisa menemukan tempat ini. 

Kuparkirkan sepeda motor di bawah pohon jambu. Kulihat wanita paruh baya yg berada di teras bangunan menyambut kami. Kamipun dipersilakan masuk ke dalam ruang menjahitnya langsung.

Ruangan itu berukuran 3 x 7 meter dengan dinding batako yang tidak dilapisi lagi. Lantainya terbuat dari semen. Mamaku  dan wanita itu mulai membicarakan masalah pesanan mama. Aku hanya duduk di kursi dekat pintu masuk, diam mendengarkan sambil mengamati ruangan yang merupakan kebiasaanku sejak dulu.

Terdapat  dua mesin jahit yang terlihat sedang digunakan. Satu di depanku satunya diletakkan di atas meja kayu seluas 1 kali 2 meter. Kursi di depan meja dan yang kududuki berbentuk bulat tanpa sandaran. Ada sebuah kipas angin  di seberang meja. Banyak bungkusan kain di sana-sini dengan berbagai motif dan warna. Bakal-bakal yang baru akan dijahit, diberi pola dan setengah jadi juga berserakan di beberapa tempat. Baju pesanan yang sudah jadi dipajang di sudut ruangan, menghadap pintu masuk. Meski bagitu aku suka suasananya, terasa teduh dan nyaman.

"Belajar mengajinya sudah sampai mana bu?" tanya mamaku, mengalihkan perhatianku dari pintalan benang yang berwarna-warni.

"Saya nggak belajar iqro' bu, disuruh langsung ngikutin baca quran sama ustadzahnya," jawab wanita itu sambil melipat baju pesanan mama.

Aku tersenyum. Aku bisa menebak kalau pembicaraan ini akan menarik.

To be continued...

Saya tunggu kritik & sarannya.

Jumat, 15 Januari 2016

Membuat Cerita

Saya tidak tahu harus menuliskan apa malam ini. Tema yang sudah saya susun saya simpan di laptop. Masalahnya baterai laptop saya habis dan chargernya tidak ada di rumah. Panjang ceritanya.

Maka dari itu saya bingung harus menulis apa hari ini. Saya berpikir, saya otak-atik handphone saya, lalu saya iseng mencari blog salah satu teman. Sudah lama sekali rasanya saya tidak mengunjungi blognya. Rupanya ada tulisan baru yang ia posting. Sekitar bulan november tahun lalu. Berisikan narasi singkat dengan kata-kata indahnya. Ah, saya sudah tahu betul kalau tulisannya memang bagus. Ia sangat berbakat membuat cerita, merangkai kata-kata. Saya iri. Tidak tahu juga kenapa harus iri. Harusnya saya belajar lebih lagi.

Kamis, 14 Januari 2016

Mimpi: Pertahankan Atau Lepaskan


Hello Good People!
Kegiatan apa yang sudah kalian seharian ini atau kemarin lakukan? Apapun hal itu, semoga bermanfaat dan bisa membuat kita lebih baik lagi ya.

Jadi tema kita hari ini adalah mimpi.

Mimpi...
Kalian punya mimpi apa? Mimpi dikejar anjing laut lalu tiba-tiba diselamatkan harimau di pesta ulangtahun teman? Hehe maaf jika terlalu ngaco. Tentu di sini bukan mimpi seperti itu yang saya maksudkan. Mimpi yang saya maksud adalah mimpi yang berarti angan-angan. Ya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mimpi berarti 1 sesuatu yang terlihat atau dialami ketika tidur 2 angan-angan. Lalu saya penasaran menelusuri arti kata 'angan-angan'. Sayapun cari lagi di KBBI, dan menemukan arti kata angan-angan adalah 1 pikiran;ingatan 2 cita-cita. Hm, jadi mimpi=cita-cita? Ini memang banyak yang nggak tahu atau saya saja yang terlalu bodoh? Selama ini saya pikir mimpi itu berbeda dengan cita-cita di mana mimpi dinilai lebih tidak realistis dari cita-cita. Tapi saya tidak mau mempersalahkan itu.

Yang ingin saya bahas di sini adalah jika berbicara tentang mimpi (dan/atau cita-cita) pasti akan terbayang masa depan. Bagaimana kamu membayangkan kehidupan masa depanmu seperti itulah mimpimu. Tentu bayangan masa depan di sini adalah yang berasal dari hati kecil atau nurani, bukan dari keadaan kita sekarang. Memang, realitas saat ini sedikit banyak mempengaruhi mimpi kita. Mulai dari faktor ekonomi, pendidikan, gengsi, kepepet, tekanan, dan lain sebagainya.

Ah aku kan pemalu, mana bisa aku jadi presenter terkenal?

Ah otakku kan pas-pasan, mana bisa jadi arsitek beneran?

Ah ibuku saja tidak percaya aku bisa jadi pengusaha sukses, apalagi orang lain?

Hal-hal seperti itulah yang membuat nyali kita menciut, down, membuat semangat menjadi redup. Saat itulah kita mulai memikirkan, apakah akan mengakhirinya dan memilih jalan yang lebih 'aman' saja atau akan tetap mempertahankan mimpi itu walaupun jalannya sulit sekaliii?

Hanya diri sendirilah yang mampu menjawabnya. Saya? Jawaban saya adalah saya sedang mempertahankannya. Mungkin saya terlalu terbuai oleh kisah Ikal dan Arai, atau oleh perahu kertasnya Kugy. Entahlah. Sedari kecil saya banyak membaca buku-buku yang menceritakan indahnya bermimpi. Walaupun kenyataanya tak selalu mendukung saya, bahkan hampir tidak pernah. Sampai sekarang saya terus bertahan. Walau sifat saya juga sempat tidak mendukung, tapi kali ini tidak akan lagi.

Takut akan kegagalan selalu membayangi benak saya. Namun perlahan ketakutan itu pasti akan sirna bersama pemahaman-pemahaman baik yang saya dapatkan. Saya punya Allah, saya yakin Allah akan menolong saya disetiap kesulitan. Padahal pesan Allah sangat jelas, 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”
[QS. Ath Tholaq: 2-3]

Broadcast massage yang saya dapatkan dari seorang teman tersebut menyebutnya sebagai Ilmu  Yakin, "Aku ini diciptakan oleh Zat Yang Maha Kaya, kenapa aku harus takut menjadi miskin.."

Karena itulah saya akan tetap menghidupkan mimpi saya.

Akhir kata, beberapa mimpi saya tersebut adalah  mempunyai usaha sendiri yang berhasil, menjadi novelis dan bertualang ke penjuru dunia-untuk sebelumnya menjelajahi nusantara.

Semoga dengan menuliskannya di sini saya akan terus teringat. Semoga bermanfaat juga untukmu.
Sekali lagi blog serta tulisan ini saya buat untuk sekedar berbagi pendapat saya. Saya tidak bermaksud untuk menggurui, menasehati, menjatuhkan, dan lain sebagainya. Maaf jika ada kata-kata saya yang tidak berkenan di hati. Dan terimakasih sudah membaca, bertemu lagi di postingan selanjutnya! Kritik dan saran tetap ditunggu.

Rabu, 13 Januari 2016

Adikku dan Televisi



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat malam! 

Anggap saja tema hari ini adalah Televisi.

Langsung saja ya, let me tell you a story.

Seharian ini, banyak hal yang membuat saya kesal. Salah satunya saya jengkel dengan adik saya yang tidak mau belajar, padahal ia sudah memasuki semester terakhirnya di sekolah dasar. Ia justru lebih suka menonton sinetron di salah satu stasiun televisi swasta berceritakan anak sekolah yang kerjaannya hanya geng-gengan, kebut-kebutan, berkelahi di jalan, juga kisah ibu tiri yang mencoba merebut pacar anak tirinya.

Saya kemudian teringat bahwa pemilik stasiun televisi tersebut mempunyai semacam partai, yang ia iklankan di stasiun televisinya sendiri dan mungkin di media miliknya yang lain, saya kurang tahu. Iklan itu memperlihatkan bahwa ia begitu peduli terhadap rakyat. Saya sempat terkesan karena iklan itu sedikit menyentuh hati. Namun dari korelasi antara dua hal tadi simpati saya menjadi hilang terhadapnya. Tidak mungkin kalau ia benar-benar ingin mensejahterakan rakyat, ia akan membiarkan tayangan tersebut disiarkan. Tidak mungkin jika ia benar-benar ingin membangun bangsanya ia akan membiarkan anak-anak bangsa melahap mentah-mentah adegan-adegan seperti itu, yang sama sekali tidak ada manfaatnya bagi perkembangan mereka. Saya rasa ia masih mengejar ratting, mengejar keuntungan, profit oriented. Bukan kualitas tayangan. Padahal, sudah ada beberapa stasiun televisi swasta sekarang yang benar-benar memperhatikan mutu dan kualitas setiap tayangannya. Saya bukan siapa-siapa di sini. Hanya penonton, yang mencoba sedikit berpikir. Mungkin bagi sebagian orang saya terlalu membuatnya serius. Lha namanya sinetron, pastilah untuk hiburan. Ya, saya tahu itu. Pertama saya menonton juga saya sedikit terhibur karena bisa melupakan masalah saya sejenak dan berganti menonton, menikmati masalah tokoh dalam tayangan, namun lama-kelamaan saya muak. Mungkin masyarakat benar-benar butuh hiburan setelah seharian bekerja, dan sebagian masyarakat mentah-mentah menikmati tayangan itu. Namun saya rasa di zaman yang serba global ini sangat perlu tayangan yang bukan hanya menghibur tapi juga mengedukasi penontonnya. Saya berharap tayangan seperti tersebut di atas akan segera tergantikan dengan tayangan yang bermutu dan berkualitas.

Kembali lagi ke topik awal. Adik saya laki-laki. Saya tidak mengerti apakah semua anak laki-laki itu belajar hanya sekedar mengerjakan PR atau adik saya saja yang malas. Yang jelas, sampai sekarang saya belum bisa mengajaknya belajar di luar mengerjakan PR, juga orangtua saya. Kami sudah membujuknya dengan berbagai cara, dengan memberitahu akan kemungkinan-kemungkinan masa depannya jika ia belajar dan tidak belajar. Ditambah ia sekarang kerjaannya hanya bermain game online yang ada di hpnya. Padahal satu-dua tahun lalu ia masih bermain di lapangan bersama teman-temannya seharian penuh.

Saya pusing juga memikirkan hal ini. Belum juga masalah lain. Belum juga masalah saya sendiri. Apalagi saya selalu merasa bahwa saya tidak bisa berbuat banyak, terutama untuk masalah adik saya. What should I do?

Dari cerita barusan kesannya saya peduli banget ya sama banyak masalah, padahal saya juga agak gimana gitu mengetik tulisan di atas. Saya hanya nggak tahu harus menuliskan apalagi. Intinya saya masih egois. Lho kenapa begitu? Karena saya masih lebih antusias untuk memikirkan hal-hal yang saya suka kerjakan, tentang impian-impian saya yang sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang nyata. Hm, begini deh. Biar saya nggak membelok dari tema yang sebenarnya lagi (karena sebenarnya tema hari ini bukanlah tema diaturan awal-how silly I am, hari kedua saja sudah melanggar aturan sendiri), besok saya akan menulis sedikit tentang mimpi.

Terakhir saya mengingatkan kalian agar jangan ragu untuk  berkomentar (opini, saran, kritik, dll) agar tullisan saya bisa lebih baik lagi. Jangan ragu-ragu, yuk langsung tulis dibawah! See you.^^