Jumat, 23 September 2016

Setelah Setahun

Sudah satu tahun ia berada di bangku universitas. Kehidupannya sudah banyak berubah. Waktunya yang dulu banyak ia habiskan di ruangannya sepulang dari menimba ilmu, kini ia habiskan untuk berkegiatan hingga matahari terbenam. Mencari pengalaman tujuan awalnya, hingga kini ia sadar bahwa ia melakukannya untuk dapat menemukan versi dirinya yang terbaik.

Ia tidak pernah mengatakannya kepada keluarganya. Mereka hanya tahu anggota keluarganya pergi kuliah ke kota sebelah. Entah apa yang ia lakukan selain itu, mereka tak tahu.

Ia seringkali gagal. Mendaftar ini-itu tak jua lolos. Tapi justru membuatnya berpikir ingin belajar lebih dan lebih lagi. Saat sudah masuk pun, seringkali ia salah dan lelah. Jatuh bangun dalam mempertahankan posisi. Dia tidak pernah mengeluh. Hanya sesekali menangis, setelah itu tidak. ia terus belajar, menyadari "kalau bukan sekarang, kapan lagi?"

Ia keluar dari zona nyamannya. Bagaimana tidak? Ia yang introvert sekarang malah menjadi bagian dari divisi kaderisasi di lembaga dakwah tingkat departemen di universitasnya. Ditambah lagi menjadi pemandu di kepanitiaan pengenalan dan orientasi mahasiswa baru.

Oranglain takkan mengerti jalan pikirannya. Terkadang, dirinya sendiri pun juga tidak memahaminya. Satu yang ia pegang, bahwa apa pun yang terjadi itu semua adalah rencana Tuhan yang terbaik yang dihadiahkan bagi dirinya.

Ia banyak memiliki orang-orang baru. Tentu juga banyak kehilangan teman-teman lama. Baginya, itulah siklus kehidupan. Datang dan pergi. Ia tak pernah menahan, hanya saja ia ingin siapa pun yang pernah mengenalnya mengenangnya.

Begitu juga dengan aktivitasnya. Harinya dilahap dengan kuliah dan organisasi. Belakangan, ia sering merindukan hobi lamanya. Mengurung diri di kamarnya yang berpenerangan lampu belajar 5 watt, bersantai-santai, membaca novel, internetan, menulis. Ah, apalagi kegiatan yang terakhir itu. Ia sangat merindukannya setelah sempat ia membaca tulisan teman lamanya yang sehobi dengannya. Maka, ia pun menyempatkannya malam ini. Bahagia rasanya, dan damai.

Rabu, 13 Juli 2016

Random Thought: Tentang Nikmat yang (Seharusnya) Selalu Disyukuri


Peringatan: Ini benar-benar acak!


Bahagia itu sederhana. Kamu cukup melihat sekitar sedikit lebih detail, maka kamu akan langsung menemukannya. Seperti aku pagi kemarin. Sudah pukul setengah sembilan, namun sinar mentari pagi itu belum juga terlihat. Agaknya, si awan mendung lebih suka mendominasi langit Kulonprogo esok itu. Namun bukan suram yang kurasakan, tapi damai. Ditambah suara bocah-bocah yang bermain bulutangkis di halaman samping rumah dan suara kokok ayam yang sesekali masih terdengar (mungkin kiranya mereka itu masih subuh) membuat pagi itu terasa damai untukku. Mendengar gelak tawa mereka, terlepas dari gadget tentunya, merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Membuatku mengingat masa kecil bermain petak umpet dan lompat tali dengan teman sampai sore.

Kemarin, aku bertemu dengan seorang teman lama di sebuah apotek. Bukan, dia bukan sedang sakit. Dia berada di sana karena dia berkerja di tempat tersebut. Aku yang datang bersama ibu membeli sebuah obat langsung tertegun. Jadi dia sudah bekerja di saat yang lain masih merayakan Idul Fitri?

Di perjalanan pulang aku kembali berfikir. Enaknya dia dan teman-teman lain yang sudah bekerja. Tidak perlu meminta uang dari orangtua lagi. Kedewasaannya juga terlihat lebih matang dibanding kita-kita yang masih sekolah/kuliah. Dan aku merasa malu karena masih begini-begini saja. Masih meminta uang dari orangtua untuk hal apapun.

Lalu aku ceritakan kegelisahanku itu pada salah seorang sahabat melalui sebuah aplikasi chatting. Setelah aku menceritakan semua pikiranku tadi dia lalu membalasnya dengan kata-kata yang sebenarnya sederhana, tapi sangat menohokku.
“Pasti di batin mereka ‘enak ya dini bisa kuliah’,” tulis teman tersebut.
“Di usia kita sebenarnya belum pantes kerja Din, belajar dulu,” lanjutnya.

Benar juga. Kita seharusnya memang mengusahakkan pendidikan yang tinggi terlebih dahulu, bagaimana pun keadaannya. Karena, meski pendidikan yang tinggi tidak bisa menjamin kita pasti sukses di masa depan, tetapi setidaknya pendidikan yang tinggi akan membawa kita pada pekerjaan yang lebih baik di banding yang tidak berkerja.

Betapa kurang bersyukurnya diri ini. Padahal baru kemarin aku baru menangis karena Allah masih berkenan menutupi semua aib-aibku dan tiba-tiba siangnya aku salah mengartikan petunjuknya jika saja aku tidak berbicara dengan temanku.

Oh ya, tentang pertemanan. Malam ini aku mendapatkan satu lagi pelajaran mengenai hal ini. Bahwa dalam berteman aku haruslah bersabar, pemaaf, dan ikhlas karena sesungguhnya waktu yang akan menjawab semuanya. Menjawab semua kegelisahanku, pertanyaanku, dan marahku. Bahwa dalam berteman aku tidak boleh mengenggam terlalu kuat, namun biarkan mereka bebas sekehendak mereka. Jika benar-benar teman sejati, semua pasti akan kembali erat.

Sekali lagi, bahagia itu sungguh sederhana. Bahagia itu cukup dengan menikmati malam di ruangan kepunyaan ditemani penerangan yang berasal dari lampu belajar dan layar laptop, lagu-lagu favorit, jari-jari yang menari-nari di atas keyboard, dan pemikiran akan nikmat yang tiada henti telah dan akan selalu diberikan Allah untuk aku dan seluruh umatnya. Oh ya, jangan lupakan tentang asyiknya mencari kata-kata yang baku di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan juga membuka tesaurus bahasa indonesia. Dan harapan-harapan untuk lebih sering menulis. Dan mencari-cari gambar yang cocok untuk tulisan ini. Dan kenikmatan-kenikmatan lain. Alhamdulillah. Harus selalu bersyukur apa pun dan bagaimana pun keadaannya.

credit: here


Kulonprogo, 13 Juli 2016
23:36



Selasa, 12 Juli 2016

Coretan Lain

Aku rindu menulis. Rasanya sudah seabad aku tidak menulis. Teringat ketika waktu lalu di mana setiap harinya aku sangat bersemangat menulis. Apapun itu.

Kini, aku sedang berada pada masa-masa kritis. Di mana aku diharuskan untuk bertindak, mau tidak mau. Berpikir, suka tidak suka. Mempertimbangkan semua hal dengan masak-masak. Agar tak terjatuh di masa yang akan datang.

Seringnya, aku hanya ingin, tanpa tindakan yang berarti. Mengaku sudah berupaya keras, namun ternyata hanya bermalas-malasan seharian di ruanganku...

Kata seseorang, menjadi dewasa berarti akan semakin jarang tersenyum. Maka dari itu kita harus memaksakan untuk terus tersenyum, dalam keadaan paling menyakitkan sekalipun. Aku memaknai pernyataan itu sebagai suatu hal yang ada benarnya. Mungkin semakin bertambah umur kita, akan semakin banyak penderitaan yang kita alami, semakin terjal jalan yang akan kita lewati, semakin banyak teman yang datang-juga pergi. Kata orang bijak, semua itu harusnya bisa kita ambil pelajaran, pelajaran dari segala kesakitan, kesulitan, dan kehilangan.

Aku sering berpikir begitu. Bahwa segala kejadian memang bisa diambil pelajaran. Bahwa semua kejadian buruk yang kualami selama ini, adalah proses menuju aku yang dewasa. Namun, aku juga sering berpikir bagaikan seorang yang frustasi. Sakit hati, marah, benci, malu atas semua yang terjadi. Membenci orang-orang yang menyakitiku, iri dengan orang-orang yang lebih daripada aku. Sering.

Tapi aku akhirnya sadar, jika momen-momen yang menyakitkan itu akan berlalu. Sakitnya, tersembuhkan oleh waktu. Meski masih terekam dalam memori. Sebagian masih jelas, sebagian kabur. Memafkan, berdamai. Kemudian ada masa-masa di mana hidup terasa membahagiakan. Kemudian datar. Dan kemudian, masuk kembali dalam momen penderitaan.

Tapi seharusnya, aku tidak kalah kan dengan momen? Tidak seharusnya aku menyerah pada keadaan, kan? Justru sebaliknya, harusnya aku bisa menikmati segala hal tersebut.

credit : favim.com



-Dibuang sayang,

  3/12/2014

Minggu, 08 Mei 2016

Catatan Fajar

Senja, ajarkan lah aku tentang keikhlasan
Karena kau selalu indah meski terbitmu hanya sejenak
Bulan, ajarkan aku kesabaran
Karena kau selalu patuh menerangi kegelapan sepanjang malam
Karena diri ini masih sulit untuk bisa mengerti keduanya
Kenapa harus bersusah-susah ketika akhirnya tidak dihargai?
Kenapa harus berpeluh ketika akhirnya tidak dipandang?
Kenapa harus menunggu ketika akhirnya tidak datang?
Kenapa harus memaafkan ketika hati terlanjur tersakiti?
Kenapa?
Salah satu temanku berkata
Tak usahlah kau dengar cakap orang
Yang penting Tuhan memandang
Basuhlah segala kemarahanmu dengan istighfar
Bersihkan hatimu dengan perbanyak baca Qur'an
Tahan, tahan amarahmu. Karena yang ada dalam Kitab-Nya adalah perintah untuk bersabar
Perbaiki sholatmu, mungkin selama ini sholatmu masih belum benar sehingga hatimu mudah layu seperti itu.

ﻭَﻟَﻨَﺒْﻠُﻮَﻧَّﻜُﻢْ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻮْﻑِ ﻭَﺍﻟْﺠُﻮﻉِ ﻭَﻧَﻘْﺺٍ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﻣْﻮَﺍﻝِ ﻭَﺍﻷَﻧْﻔُﺲِ ﻭَﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻭَﺑَﺸِّﺮِ ﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮِﻳﻦَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)

Catatan fajar
6:53/8:5:2016

Kamis, 24 Maret 2016

Kuliah Bahasa Indonesia; Membuat Paragraf

Hari ini saya ada kuliah Bahasa Indonesia. Temanya mengenai paragraf. Dosen saya menjelaskan, hal pertama yang harus dilakukan untuk membuat paragraf yaitu menentukan sebuah ide pokok. Seharusnya dalam satu paragraf hanya terdapat satu ide pokok dan satu kalimat topik/kalimat pokok/ kalimat utama, dan kalimat lainnya merupakan kalimat pendukung. Selanjutnya kita buat kerangka, bisa berbentuk tulisan, bagan, atau yang lainnya sesuai keinginan kita. Setelah itu kita tentukan pola pengembangan paragraf, apakah deduktif atau induktif. Selesai sudah. Kemudian Ibu dosen yang berasal dari FIB (Fakultas Ilmu Budaya) ini meminta kita untuk praktik secara langsung. Kita diberi suatu data lalu diminta untuk membuatnya menjadi sebuah paragraf.

Mungkin bagi teman saya yang lain kuliah ini membosankan, tapi saya  justru sangat excited  mengingat bahwa materi ini sangat bermanfaat untuk diri saya. Di waktu praktik tersebut saya menguji diri sendiri apakah saya yang ngakunya suka menulis bisa mengerjakan latihan tersebut dengan hasil yang berbeda atau sebenarnya sama saja dengan orang lain yang tidak menyukai menulis. Dan hasilnya tulisan saya hanya ada koreksi di kalimat kesimpulan. Tapi saya lalu teringat bahwa latihan sebelumnya saya hanya mendapat skor 70 dan teman saya bahkan ada yang mendapat 84. Kemudian saya juga ingat akan tulisan-tulisan saya di blog ini yang seringkali dalam satu paragraf bercerita ngalor-ngidul tak tahu rimbanya. Semua itu membuat saya ingin lebih giat lagi belajar hal-hal mengenai kepenulisan seperti mempelajari Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia lebih giat, memikirkan setiap kata yang digunakan lebih cermat, membuka Tesaurus lebih sering dan sebagainya. Jika saya tidak mau belajar, tidak mau mengenal rambu-rambunya, maka tulisan saya akan sama saja seperti orang yang tidak suka menulis.

Saya sadar semua orang bisa menulis, tapi tidak semua orang bisa menulis dengan bagus. Seorang teman saya berkata "ah saya lagi malas berfikir," ketika saya memberitahunya bahwa ada latihan menulis paragraf di sesi kuliah Bahasa Indonesia. Dari situ saya juga baru sadar bahwa bagi sebagian orang yang lain menulis itu sulit karena harus berfikir dan berkonsentrasi. Anehnya saya tidak berpikiran begitu. Yah memang sulit sih, sulit milih memadu-padankan kata-kata nya (lah sama saja ya), tapi saya tetap menyukainya. Seperti sekarang, saya menyukainya. Hal ini mengalir, walau butuh beberapa kali perbaikan agar enak untuk dibaca.

Hm, sudah dulu ya, itu dulu. Pengennya sih, bisa menulis tiap hari, itu kalau saja ada yang komentar di bawah. Enggak sih, dorongan terbesar tetap ada dari dalam diri, tapi kalau tiba-tiba dikomen kamu sih, saya akan seneng banget. Hihi.

Minggu, 07 Februari 2016

Segelas Cappuccino

Jika aku marah, berikan saja  aku segelas cappuccino

Aku akan menerimanya, aku akan meminumnya dengan semangat

Karena, kau tahu cacing-cacing di dalam sini belum mendapat asupan seharian ini

Terpaksa, apa boleh buat kan, daripada aku mati?

Walaupun kemudian berpikir,
Kenapa kamu membeli segelas cappuccino? Bukan segelas wedang jahe, mungkin?

Kenapa kamu tidak membeli ubi dan sagu, mengapa malah makanan luar negeri itu?

Dan aku tersenyum melihat adik kesenangan menyeruput dan melahapnya

Kenapa begitu.....

Miris

Kenapa tidak memberi sesuai kemampuanmu?

Asalkan kau memenuhi kewajibanmu, itu cukup bagiku.

Cambuk

Kamu tahu rasanya terpuruk? Tiada gairah untuk melakukan suatu apapun, bahkan yang biasanya membuat semangatmu meletup-letup sekalipun.

Sedih itu berasal dari dalam. Jika dari luar sih, tidak akan rasanya sesedih ini. Di saat kamu mulai ringan melangkah, di saat rencana-rencana sudah siap kamu hajar, di saat kamu mulai menikmati keadaan hidupmu yang sekarang.

Allah memang Maha Segalanya. Di pagi hari aku merasa begitu tenteram dan bersyukur, malamnya aku diberi perasaan sedih dan gelisah. Ini bukan azab atau musibah, mungkin hanyalah sebuah cambuk bagiku untuk lebih keras lagi berusaha dan bekerja dalam perjalanan hidupku di dunia yang fana ini. Sabar. La Tahzan, Innallaha Ma'ana.

Kulonprogo, 7 Februari 2016