Selasa, 15 Juli 2014

Saat Saya di Durungan

Waaah maaf bangetttt saya bener-bener lupa proyek yang satu ini. Kebanyakan mikirin wawancara sih. Duh saya kok udah jadi pelupa akut ya? huhuhu.

Jadi ceritanya saya kali ini mau mengikuti proyek menulis yang diadakan oleh Padakacarma (lagi). Namanya 7 Hari Ngimcil. Eits..... jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Ngimcil ini singkatan dari Ngisahke Masa Kecil. Diadakan selama tujuh hari dari Senin, 14 Juli 2014 sampai Minggu, 20 Juli 2014. Karena saya beneran lupa, jadi saya hari ini mau ngepost 2 tulisan deh ya? ._.

Saat Saya di Durungan
      
Kali ini, saya ingin menceritakan ketika saya tinggal di Desa Durungan RT 45 RW 21, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo. Entah kenapa sampai sekarang saya masih bisa ingat sampai ke RT RW nya, padahal udah lama pindah dari situ.

Di sana lah saya menghabiskan masa kecil saya dari lahir hingga taman kanak-kanak (TK). Saya menghabiskan waktu dengan bermain bersama kakak saya yang dua tahun lebih tua dari saya, Mbak Hani, dan kedua sepupu saya yang merupakan anak dari Pakdhe saya yang rumahnya berhadapan dengan rumah yang saya tempati. Mereka bernama Ipang dan Lu'lu'. Ipang itu lebih tua setahun dari saya sedangkan Lu'lu' seumuran dengan saya.

 Kalo membicarakan soal bermainnya apa aja sih, jujur saya agak lupa-lupa-ingat gitu. Saya ingetnya kita pas main kejar-kejaran gitu, terus Ipang punya koleksi mobil-mobilan kecil seperti hot wheels gitu. Kata Lu'lu' di sms tadi sih, kita dulu mainnya yeye (itu lho yang pake karet disambung-sambung terus loncat-loncat), bekelan, cublak-cublak suweng, dan lain-lain. Iya, sekarang saya mulai ingat. Yeee. Selain itu kita juga suka dakon, tukeran binder yang saat itu lagi hits-hitsnya. Terus ngaji di sebuah gedung yang katanya angker. Kalo belanja di tempatnya Mbak Kasirah.

Terus saya sama Lu'lu' masuk TK. Kita selalu berangkat berdua, pulang berdua. Nggak kayak anak sekarang yang kebanyakan ditungguin kalo di TK. Di situ kita juga lagi seneng-senengnya. Kalo pas di TKnya saya sukanya main sama seorang anak laki-laki, namanya Munir, haha. Mainan balok kayu warna-warni, meronce, menggambar, nusuk-nusuk kertas pake jarum (lupa namanya). Terus di depan TK ada kursi panjang, ayunan, perosotan, terus apasih namanya yang kotak-kotak kalo nggak bunder seperti bola dunia yang terbuat dari besi itu, tempat kita gandul-gandulan. Favorit saya sih perosotan yang saat itu terbuat dari semen (juga). Tapi di dekat perosotan itu ada pohon apa gitu, gede, yang banyak kepiknya. Itu lho kepik, semacam serangga yang bisa terbang tapi baunya masaAllah. Nah saya pernah tuh suatu hari pas di halaman TK. Waktu itu saya pake seragam olahraga, tiba-tiba dari punggung saya kecium bau menyengat gitu, eh ternyata ada si kepik. Waktu itu saya nggak njerit-njerit, cuma nangis dengan hobohnya. Ah inget banget. Dulu itu pas istirahat TK jajannya es lilin, kalo nggak salah harganya dua ratus perak. Terus sama jajanan yang harganya seratus rupiah gitu, mie-mie seratusan gitu deh. Terus juga suka jajan Roti Bali yang bungkusnya gambar penari bali.

Di belakang TK ada rumah temennya Mbak Hani, namanya Mbak Raras. Nah kalo Mbak Hani main ke rumah Mbak Raras saya sukanya ngintilin, karena di rumah Mbak Raras ada DVD Petulangan Sherina. Iya dulu saya cuma mau numpang nonton Petualangan Sherina kalo di rumahnya Mbak Raras hahahaha. Soalnya filmnya bagus banget. Paling inget sih yang pas adegan Sherina dan Sadam yang lagi ledek-ledekkan lewat lagu gitu. "Dia pikir, dia yang paling hebat. Merasa paling jago, dan paling kuat......" Ah kangeeeen, pengen nonton lagi.


Duh mendadak saya pengen culik doraemon, dan merampas mesin waktunya. Kalo nggak, pintu kemana-saja, aja deh. Kurang bahagia apa lagi coba, masa kecil saya?



Penampakan kita. Pada melongo kenapa sih >,<

 Piknik TK. Hayoo saya yang mana?

Dini Lu'lu' {}

Selasa, 08 Juli 2014

Kesakitan

Kesakitan itu tiada batasnya
Perih
Sedih, karena ini berlangsung satu periode sekali
Frustasi, kenapa ini harus terjadi

Bertanya, mengapa hanya  beberapa perempuan yang harus mengalami ini
Di dera rasa sakit
Di mana kita dianggap sedang tidak suci
Dilarang beribadah

Hanya bisa bertahan saat rasa ini tiba
Sesekali melakukan sesuatu yang mungkin bisa menghilangkan sakitnya
Datang bulan mereka menyebutnya
Indah namanya, Bulan
Tapi, mengapa harus menyakiti?
-Aku yang sedang didera rasa sakit

Minggu, 06 Juli 2014

Mimpi

        Semalam aku bermimpi. Pukul setengah empat pagi aku terbangun dari mimpi itu, dan langsung menangis. Menangisi mimpiku, menangisi kenyataan, menangisi nasib. Sungguh aku seperti telah kehilangan banyak hal. Harapan, mimpi, cita-cita. Aku merasa tidak berguna. Aku selalu saja seperti ini, pengecut. Tidak berdaya. Mengapa? Mengapa harus seperti ini? Aku seperti telah salah arah. Tak mungkin berputar balik. Pasrah, akan waktu yang terus berjalan, rintangan yang terus menerjang. Aku kabur olehnya. Aku hancur.



               Hari ke-21. 21 hari menulis.

Sabtu, 05 Juli 2014

Life




Hari ke-20. 21 hari menulis.

Memilih Pemimpin


*Memilih pemimpin

"Pemimpin" itu adalah kita semua. Yang memimpin kejujuran diri sendiri, memimpin kepedulian, berbuat baik, menafkahkan hartanya dijalan yang baik, bahkan termasuk definisi "pemimpin" kalaupun hanya memimpin menjaga diri sendiri dari hal2 merusak. Dengan pemahaman ini, maka genap sudah maksud dari nasehat nabi kita yang tercinta bahwa semua orang adalah pemimpin. 

Apakah negara kita rusak jika yang jadi presiden buruk? Tentu saja tidak, sepanjang "pemimpin2" di hati kita semua melakukan fungsinya. Tidak akan kejadian, karena akan ada yang saling mengingatkan, saling menasehati. Indonesia itu punya siapa? Apakah punya rakyat Indonesia? Ya, bukan. Ada yang maha memiliki, yang sekaligus juga maha penyayang  Percayalah, kita yang punya HP saja dirawat baik2, takut banget rusak. Atau punya buku, pun dirawat dan dijaga, apalagi dalam kasus ini. Ada yang maha merawat semua urusan. Kita cuma bisa berusaha, sisanya adalah keputusan mutlak yang di atas. 

Jadi, jika kalian adalah pemilih pemula, bingung dengan kecamuk masalah pilpres ini, maka tidak perlu berkecil hati. Cukup putuskan sesuai dengan nurani dan keyakinan kalian. Apakah kita akan berdosa jika ternyata pilihan kita itu besok lusa ternyata jahat. Tidak. Saya tidak sependapat jika kita berdosa atas pilihan tersebut, sepanjang kita telah berikhtiar memilih yang terbaik. 

Yang berjanji itu bukan kita, jika ada yang khianat, maka dialah yang menanggung dosanya. Yang bilang si A oke, si B keren, pun juga bukan kita; kita hanya mengamati, mendengar, lantas memutuskan dengan hati2. Kalau ternyata informasi itu salah, palsu, dusta, bukan salah kita. Karena kita adalah produk terakhir dari proses tersebut. Nah, yang harus dipikirkan adalah: jika kita terlibat dalam "janji" tersebut, terlibat dalam menyebarkan informasi2 tersebut, atau kitalah yang berusaha habis2an mendukung jagoan pilpres, membuat orang lain jadi salah pilih, silahkan berpikir. Karena siapapun bertanggungjawab penuh jika melakukannya. 

Jaga jarak dengan akun2 yang sibuk bertengkar. Jika terganggu, unfollow, unlike, atau berhenti ikuti. Besok lusa, kalau sudah pilpres, silahkan ikuti lagi jika merasa ada manfaatnya. Jangan terpancing menanggapi sesuatu, karena sekali kita terpeleset, susah payah berdiri lagi, minimal kaki kita ikut kotor. Kalau sampai hati dan akal sehat yang kotor, lebih repot lagi. 

Pada akhirnya, tentukan pilihan kalian dalam hati, yakini. Besok pas hari H, datang ke TPS, pilih. Maka selesai tugas kita memilih. 

Sambil diingat dan direnungkan, sekali lagi akan saya tulis: "Pemimpin" itu adalah kita semua. Yang memimpin kejujuran diri sendiri, memimpin kepedulian, berbuat baik, menafkahkan hartanya dijalan yang baik, bahkan termasuk definisi "pemimpin" kalaupun hanya memimpin menjaga diri sendiri dari hal2 merusak. Dengan pemahaman ini, maka genap sudah maksud dari nasehat nabi kita yang tercinta bahwa semua orang adalah pemimpin. -Tere Liye




Hari ke-19. 21 hari menulis.

Pagi

                Aku duduk sendiri. Di sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu. Di tepi jalan setapak. Ditemani pepohonan rimbun yang mengelilingi.
Burung-burung terbang lepas. Dari kejauhan terdapat suara ayam berkokok.  Suara jangkrik juga masih terdengar. Sungguh harmoni yang indah.
 Angin pagi bersentuhan dengan kulitku. Dingin, menyejukkan, menenangkan. Kuhirup dalam-dalam.

Aku memandang ke ufuk timur. Menatap langit pagi yang masih berwarna abu-abu. Menunggu matahari.


Hari ke -19. 21 hari menulis.

Kamis, 03 Juli 2014

Gaje

               Hari ini ke sekolah. Mau wifian sekalian liat calon adik kelas. Soal pengeboman sih, nggak tau ya mau liat atau engga. Sekarang lagi di hall. Udah rame sih nggak seperti awal saya datang tadi. Yaiyalah orang saya tadi  datang jam delapan kurang dikit. Bingung mau nulis apa, nggak ada ide. Rame juga soalnya. Perutku udah krucuk-krucuk lagi. Jam segini emang jadwalnya perutku keroncongan gini sih. Koneksi internetnya juga lumayan sih. Lumayan lemot maksudnya. Jadi, nggak bisa nulis banyak-banyak. Udah gitu aja ya. Hehe. Nggak jelas? Emang.




Hari ke-18. 21 hari menulis.